DESA CILEMBU

Kultur Jaringan

Kultur jaringanIndonesia merupakan Negara yang memilki lahan pertanian yang cukup luas dengan kekayaan alam yang melimpah, namun dengan banyaknya pembangunan dan pengalihan fungsi lahan yang tidak sesuai dengan penggunaannya membuat lahan pertanian di Indonesia semakin menyempit sehingga luas kepemilikan lahan pertanian untuk setiap masyarakat sangat  minim.
Meskipun dengan lahan yang semakin menyempit, namun pertanian di Indonesia harus terus berkembang karena pertanian merupakan sector terpenting di Indonesia.
Untuk mewujudkan pertanian dalam lahan yang sempit maka perlu adanya inovasi untuk menanggulangi masalah tersebut.  Banyak cara yang dapat dilakukan yang bisa dilakukan, diantaranya dengan menerapkan system vertikultur dan kultur jaringan (tissue cultur). 

Kultur jaringan merupakan salah satu metode bercocok tanam yang tidak terlalau memerlukan lahan yang luas, namun untuk melakukannya ada beberapa hambatan yang harus dihadapi yaitu modal yang dikeluarkan cukup tinggi dan pemahaman yang harus kuat terutama terhadap teori totipotensi tanaman. 
Ada beberapa tanaman yang memang biasa dikembangkan secara kultur jaringan karena beberapafaktor tanaman dikembangkan secara kultur jaringan, salah satunya yaitu karena tanaman tersebut sulit untuk dikembangbiakan sedangkan jika mengandalkan perkembangbiakan secara vegetative biasa pertumbuhannya lambat dan jumlah yang seedling yang dihasilkan sedikit jika diperhitungkkan dengan waktu yang dibutuhkan sehingga perlu adanya penerapan teknologi untuk mensiasatinya diantaranya dengan penerana kultur jaringan.  Salah satu tanaman yang sering dikembangbiakan secara kultur jaringan yaitu tanaman dari family Orchidae atau keluarga anggrek,.....
hal ini dilakukan karena biji anggrek tidak memiliki jaringan penyimpanan cadangan  makanan, bahkan embrionya belum mencapai kematangan sempurna.  Perkecambahan bisa terjadi jika biji jatuh pada medium  sesuai dan melanjutkan perkembangannya hingga kemasakan, sehingga dialam dia akan berkecambah jika lingkungannya mendukung dan persentasenya  sangat kecil. 
Kultur Jaringan
Anggrek adalah nama umum untuk semua tumbuhan family Orchidae (keluarga Anggrek-anggrekan).  Family ini merupakan salah satu grup terbesar diantara tumbuhan berbunga. 
Anggrek merupakan salah satu tanaman hias yang mempunyai nilai ekonomis dan estetika yang cukkup tinggi,  warna, bentuk dan karakteristik lainnya yang membuat anggrek mempunyai daya tarik tersendiri dibandingkan dengan tanaman hias lainnya. 
Penyebaran anggrek di alam saat ini sudah sangat terbatas karena jumlah perkembangbiakan yang dilakukan anggrek tidak bias mengimbangi jumlah eksploitasi yang dilakukan oleh manusia sehingga untuk menjaga kelestarian anggrek berikut pemenuhan kebutuhan manusia terhadap anggrek maka perlu adanya teknologi perkembangbiakan yang tepat. Jika dilihat dari struktur bijinya anggrek tidak memilki penyimpanan cadangan makanan sehingga untuk menumbuhkan bijinya harus tempatkan pada media yang memiliiki kandungan nutrisi yang bisa langsung dimanfaatkan oleh biji anggrek untuk pengembangan pematangan biji dan proses perkecambahannya.
Salah satu anggrek yang banyak digemari oleh masyarakat yaitu anggrek yang berasal dari genus dendrobiumDendrobium yang penyusun paparkan adalah Dendrobium Stratiotes. 
Cara perbanyakan anggrek yang biasa digunakan yaitu dengan jalan kultur jaringan.  Perkembangan kultur jaringan anggrek di Indonesia jauh lebih lambat bahkan hamper dikatakan jalan di tempat jika dibandingkan dengan Negara-negara lainya, maka tidaklah heran jika impor benih anggrek dalam bentuk falsk sempat membanjiri nursery-nurseri yang ada di Indonesia.  Selain kesenjangan teknologi di lini akademisi, lembaga penelitia, public dan pecinta anggrek, salah satu penyebab teknologi ini menjadi sangat lambat perkembangannya adalah karena adanya persepsi bahwa diperlukan investasi yang sangat mahal untuk membangun sebuah lab kultur jaringan, dan hanya cocok atau fessible untuk perusahaan.
Oleh karena itu penyusun mengambil judul “teknik kultur jaringan anggrek dalam skala rumah tangga” ini untuk memberikan beberapa pemahaman terhadap kultur jaringan dam skala ruma tangga dengan menerapkan pola rumah tangga sehingga semua kalangan masyarakat dapat melakukan teknik kultur jaringan dengan mudah.


Identifikasi Masalah 
Permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat tentang kultur jaringan yaitu modal yang dikeluarkan cukup besar untuk pembelian alat dan bahan kimia (lampiran 1), sehingga pengembangan kultur jaringan serasa jalan di tempat karena masyarakat terpengaruh oleh asumsi tersebut, padahal kultur jaringan bisa dilakukan oleh siapa saja dan dimana sajan dengan modal jyang bisa ditekan seminimal mungkin.  Aplikasi kultur jaringan anggrek skala rumah tangga ini merupakan salah satu upaya untuk diterapkan di kehidupan masyarakat.

BAHASAN
Tinjuan Umum Kultur Jaringan dan Anggrek
Kultur Jaringan 
Kultur jaringan merupakan metode pekembang biakan vegetative dengan cara mengisolasi bagian dari tanaman seperti sel, jaringan atau organ lainnya dengan memanfaatkan siste, totipotensi tanaman dan menunmbuhkannya dalam media steril.
Kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti sekelompok sel atau jaringan yang ditumbuhkan dengan kondisi aseptic sehingga bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri dan tumbuh menjadi tanaman lengkap kembali (Wikipedia.2010).
Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakan secara generative.  Benih yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan antaralain:
  • Memiliki sifat yang identik dengan induknya
  • Dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membuthkan tempat yang luas
  • Mampu menghasilkan benih dengan jumlah yang besar dalam kurun waktu relative singkat
  • Kesehatan dan mutu benih lebih terjamin
  • Kecepatan tumbuh benih lebih cepat dibandingkan dengan benih yang
  • dikembangkan secara konvensional
Perkembangan kultur jaringan di indonesia belum begitu berkembang jika dibandingkan dengan Negara lain. Hal ini disebabkan karena teknologi yang ada di Indonesia masih terbatas yang mengakibatkan biaya yang dikeluarkan untuk kultur jaringan menjadi mahal, namun bagi petani kultur jaringan teknologi dan pembatasan modal tersebut tidak menjadi kendala utama malah mereka masih dapat melaksanakan kultur jaringan dengan memanfaatkan bahan yang ada.
Pelaksanaan kultur jaringan ini berdasarkan teori sel yang dikemukakan oleh Schleiden dan schwan hyaitu sel mempunyai kemampuan autonom, bahkan mempunyai kemampuan totipotensi, yaitu kemampuan setiap sel darimanapun sel itu diambil jika di.letakan dalam lingkungan yang sesuai akan dapat tumbuh menjadi tanaman yang sempurna (Daisy prapto,dkk, 1994).

Anggrek 
Anggrek atau Orchidaceae termasuk dalam keluarga tanaman bunga-bungaan. Anggrek terdapat pada hutan yang gelap, di lereng yang terbuka, pada batu karang yang terjal, pada batu-batuan didaerah pantai dengan garis pasang surut tinggi. Bahkan di tepi gurun pasir pun anggrek dapat ditemukan. Tumbuh dari kutub utara sampai daerah katulistiwa dan selatan pada semua benua kecuali Antartika. Anggrek yang banyak digemari adalah anggrek epifit dari daerah tropis.
Anggrek mempunyai lebih banyak jenis (species) nya daripada keluarga tanaman bunga-bungaan lainnya. Para ahli tumbuh-tumbuhan berkeyakinan anggrek mempunyai lebih dari 25.000 species yang tersebar di seluruh dunia. Tetapi karena kerusakan hutan kita kehilangan species yang belum dikenali dan tidak tahu dengan pasti berapa jumlahnya.
Indonesia terkenal di seluruh dunia dengan kekayaan anggreknya yang mempunyai lebih dari 4000 species anggrek yang tersebar di hampir semua pulau. Kalimantan, Papua, Sumatera, Jawa termasuk pulau-pulau yang terkenal didunia karena kekayaan anggreknya.
Genus yang banyak tumbuh meliputi : Vanda, Phalaenopsis, Paphiopedilum, Dendrobium, Coelogyne, Cymbidium, Bulbophyllum dll.
Anggrek yang terkenal dari Indonesia adalah "anggrek bulan" (Phalaenopsis amabilis) yang diangkat sebagai "Bunga Nasional" dan dijuluki "puspa pesona", dan "anggrek kantung" (Paphiopedilum javanicum).

Karakteristik 
Perbedaan tanaman anggrek dengan tanaman bunga-bungan lainnya adalah pada bentuk bunganya.
Pada bunga anggrek umumnya :
  • Mempunyai tiga sepal (daun kelopak bunga). Salah satunya yang terletak pada bagian belakang (punggung) yang menghadap keatas dinamakan sepal dorsal.
  • Mempunyai tiga petal (daun mahkota bunga) yang letaknya selang seling dengan daun kelopak bunga. Salah satu dari petal yang terletak dibawah berbentuk seperti lidah yang disebut labellum (bibir bunga), membuat bunga simetris antara kiri dan kanan.
  • Putik dan benang sari (bagian jantan dan betina) yang bergabung bersama pada bagian yang disebut column.
  • Tepung sari yang biasanya berkumpul bersama pada bagian yang disebut pollinia.
  • Buahnya mempunyai biji yang sangat kecil dan banyak.
  • Tangkai bunga dapat berkelak-kelok saat pertumbuhannya, tergantung arah sumber cahaya.
Jenis Anggrek 
Berdasarkan pertumbuhannya secara umum anggrek dibagi menjadi 2 jenis : 
Anggrek Simpodial : 
Biasanya pola tumbuhnya horizontal seperti tumbuhan merambat. Batang tumbuhnya disebut rhizome. Rhizome terbaring horizontal pada permukaan tanah dan akar-akarnya tumbuh pada sekitar panjang rhizome dengan arah menurun dan membuat batang vertikal keatas yang disebut umbi semu (pseudobulb). Ada yang pseudobulb nya memanjang keatas seperti batang (cane), dan ada pula yang pendek dan bulat atau pipih. Salah satu fungsi dari pseudobulb adalah sebagai tempat penyimpanan air dan sari makanan. Pseudobulb yang berkerut adalah tanda tanaman tersebut mengalami masalah dalam penyerapan air.   Setiap pseudobulb mempunyai satu sampai beberapa daun. Tunas baru muncul dari dasar pseudobulb yang sudah tua dan tempat titik tumbuhnya disebut "eye" (mata). Pada jenis pseudobulb yang pendek dan bulat, ada yang dibungkus oleh pelepah daun (sheath) dimana dari dasar pseudobulb tersebut bunga akan muncul, contoh : coelogyne, Oncidium. Pada pseudobulb yang berbentuk batang (cane), tangkai bunga akan muncul dari ujung batangnya, contoh: Dendrobium. 
Anggrek Monopodial : 
Anggrek yang tumbuh keatas dari satu batang (stem). Daunnya akan bertambah terus dari ujung batang selama hidupnya. Jenis ini tidak mempunyai rhizome dan pseudobulb, dan biasanya tumbuh akar udara (aerial root) dari sepanjang batangnya. Tangkai bunga (spike/inflorescence) tumbuh dari sisi batang dan dimulai dari sebelah bawah (bukan dari ujungnya), berbeda dengan sympodial (Dendrobium) dimana tangkai bunga tumbuh dari ujung batang. Jika ujung batangnya rusak karena busuk (contoh: jenis phalaenopsis) atau dipotong/distek (contoh: jenis vanda), maka akan muncul batang baru dari sisi batang lama dan daun akan tumbuh dari batang baru tersebut.
Berdasarkan tempat tumbuhnya, anggrek dibagi menjadi beberapa jenis : 
 Epiphyte
Angrek yang tumbuh menumpang pada batang tanaman lainnya tetapi tidak parasit (tidak mengambil sari makanan dari tanaman tersebut). Dengan demikian anggrek akan memperoleh posisi yang lebih baik untuk mendapatkan cahaya yang lebih. Akarnya melekat pada dahan pohon dan mendapatkan air hanya dari hujan dan kabut. 
Lithophyte : 
Anggrek yang tumbuh pada batu-batuan. Mereka menggunakan batu sebagai pegangannya. 
Saprophyte : 
Anggrek yang tumbuh pada humus dan daun-daun kering. 
Terrestrial : Anggrek yang tumbuh pada padang rumput, tanah humus dihutan.
Berdasarkan kisaran suhu udara yang sesuai, anggrek dibagi dalam 3 jenis : 
Anggrek suhu dingin (gunung, ketinggian 2000-4000m) : tumbuh baik pada suhu 15-21°C pada siang hari dan 10-13°C pada malam hari.
Contoh : Cymbidium, Masdevallia, Miltonia, Odontoglossum, Oncidium, Paphiopedilum
Anggrek suhu sedang (dataran tinggi, 750-2000m) : tumbuh baik pada suhu 21-32°C pada siang hari dan 13-18°C pada malam hari.
Contoh : Brassavola, Cattleya, Dendrobium, Epidendrum, Laelia, Paphiopedilum (molted leaves)
Anggrek suhu panas (dataran rendah, 0-750m) : tumbuh baik pada suhu 26-35°C pada siang hari dan 18-24°C pada malam hari.
Contoh :  Vanda, beberapa jenis Dendrobium.
Hampir semua jenis anggrek digemari oleh masyarakat, karena keindahan, aroma bunga, kelangkaan atau variasi yang unik dari cara tumbuhnya.  Salah satu anggrek yang banyak diminati oleh masyarakat yaitu anggrek DendrobiumDendrobium merupakan salah satu anggota keluarga anggrek yang mempunyai lebih dari 500 jenis spesiesnya (agus hanafi, 2010)
Berdasar cara hidupnya sebagian besar Dendrobium bersifat epipit, yaitu menumpang pada batang pohon lain tetapi tidak merugikan tanaman yang ditumpangi. Sedangkan berdasarkan sifat morfologinya Dendrobium tergolong anggrek simpodial dengan batang semu atau pseudobulb. 
Dendrobium dapat ditemukan mulai dari dataran rendah sampai dengan puncak pegunungan paling tinggi seperti Himalaya. Karena penyebarannya luas, jenis ini mempunyai berbagai kultur yang berbeda, maka tak heran kalau anggrek ini memiliki macam ragam aneka bentuk dan motif bunga, dari yang super mini sampai yang besar overlapping, dari yang tak beraroma sampai yang wangi lembut menggoda, dari yang berwarna putih polos sampai yang kombinasi warna-warna menyala, dari yang berpetal-sepal lurus sampai yang kribo.
Berikut adalah pembagian  jenis  Dendrobium menurut  RE Holttum, yaitu: 
Diplocaulobium. Panjang pseudobulb 15-25 cm, ramping dan salng berdekatan. Panjang daun 12-14 cm lebar sampai 2,4 cm. Satu pseudobulb hanya menghasilkan satu daun. Bunga berdiameter 3,5 cm, muncul satu per satu atau berpasangan, lama mekar 2 hari. Sepal dan petal berwarna kuning di bagian dasar dan ungu tua di ujungnya.  Spesies seksi ini tersebar dari Sumatera hingga Papua, contoh : Dendrobium malayanum.  
Desmotrichum. Pseudobulbnya rata-rata pendek dan saling berjauhan. Rhizome menjalar di lapisan bawah media. Bunga mudah patah dan cepat layu (hanya 1-2 hari), keluar satu per satu atau berpasangan dari seludang bunga pada bagian dasar daun. Mentum panjang, bibir berbelah tiga, warna bunga bervariasi pada setiap spesies. Habitatnya tempat yang teduh seperti hutan berawa. Ditemukan 10 spesies yaitu diantaranya Dendrobium comatum, Dendrobium luxurians, Dendrobium plicatile, Dendrobium laciniosum,   Dendrobium kelsallii, Dendrobium convexum, dan Dendrobium xantholeucum.  
Sacopodium. Pseudobulb pendek, berujung tirus dan memiliki dua helai daun. Bunga keluar satu per satu diantara daun, petal dan sepal lonjong dengan ujung runcing; mentum pendek berkisar 4-5 mm; bibir berbelah tiga dan ukurannya lebih pendek dari sepal. Dendrobium seksi ini terdiri atas 20-25 spesies yang tersebar dari Himalaya hingga ke Fiji. Dua diantara spesiesnya adalah: Dendrobium longipes dan Dendrobium macropodum  
Bolbidium. Sosoknya sangat kecil maksimum 10 cm. Batang bercabang dan memiliki beberapa luas; ruas bagian pangkal pendek, kecil dan ramping; pseudobulb menebal ke atas dan di bagian ujung muncul dua helai daun kecil. Bunga muncul satu per satudari seludang  antara daun, berwarna putih dan krem dengan urat bunga warna merah muda, ukurannya mini berdiameter antara 1-2 cm; mentum panjang, petal sempit dan lurus dan bibirnya berbelah dua. Anggrek  seksi ini berhubungan erat dengan seksi Rhopalanthe, ditemukan ada lima spesies tiga diantaranya adalah Dendrobium pumilum, Dendrobium striatellum dan Dendrobium procumbens  
Euphlebium.Tinggi tanaman sampai dengan 30 cm dan terdiri dari dari beberapa ruas; daun bulat telur atau segi tiga, bersusun tiga, muncul dekat ujung batang dengan panjang kurang lebih 12 cm dan lebar 2 cm. bunga muncul satu per satu dari buku-buku batang di bawah daun, berwarna putih dengan bibir warna krem atau merah muda, mentum pendek, colomn panjang, bibir juga pendek lonjong berwarna krem atau kuning muda berurat ungu kecoklatan dan oranye di bagian tengahnya. Anggrek ini  seksi ini menyebar dari Sumatra hingga Pilipina. Jenisnya seperti Dendrobium euphlebium.  
Lataorea. Memiliki pseudobulb yang menebal ke atas, beruas-ruas, daun saling menutupi dekat ujung pseudobulb; bunga membentuk rangkaian dan tumbuh tegak dekat ujung pseudobulb, berwarna kehijauan, berukuran besar dengan mentum pendek dan bibir berbelah tiga. Permukaan bunga berbulu kasar, bibir menggantung dan berwarna hitam. Memiliki 30-35 species tersebar dari Papua sampai ke pulau Jawa. Contoh spesies : Dendrobium spectabile dan Dendrobium macrophyllum.  
Callista. Batang berumbi, sedikit tegak dan tebal, berdaun kaku bertipe evergreen; bunga berkelompok dari daekat ujung batang menggantung ke bawah, tangkai pendek dan sarat bunga, sepal dan petal besar, memtum kecil, bibir agak bulat cekung tanpa belahan samping dan kebanyakan beraroma wangi. Spesies dari seksi ini asli dari Birma, contoh : Dendrobium agregatum, Dendrobium densiflorum, Dendrobium chrysotoxum, Dendrobium farmeri, Dendrobium thyrsiflorum dan Dendrobium sulcatum.  
Eugenanthe. Seruruh pseudobulb menebal dan berdaging, tumbuh tegak atau menggantung; bunga muncul serempak dari ruas-ruas batang setelah semua daun rontok, tangkai bunga pendek, ukuran pedal dan sepal sama, mentum pendek, bibir besar berbentuk bulat kadang-kadang cekung dan tidak memiliki belahan, warna bunga bervariasi pada setiap speciesnya. Contoh spesies : Dendrobium pulchellum, Dendrobium moschatum, Dendrobium anosmum, Dendrobium parishii, Dendrobium linguella, Dendrobium hookerianum, Dendrobium fimbriatum, Dendrobium chrysanthum, Dendrobium nobile,  Dendrobium lituiflorum dan Dendrobium cretaceum.  
Nigrohirsutae. Memiliki batang yang tebal, panjang dan tegak, daun tumbuh di seluruh bagian pseudobulb dan memiliki pelepah berbulu kehitam-hitaman. Pembungaan pendek dengan beberapa kuntum bunga, kebanyakan warna putih, beberapa spesies berwarna kehijauan atau kekuningan dengan corak oranye, kuning sampai merah; mentum silendris dan panjang, bibir tidak berbulu bagian sisinya berbelah. Ada sekitar 45 spesies dalan seksi ini diantaranya adalah : Dendrobium lowii, Dendrobium cruentum, Dendrobium dearei, Dendrobium schuetze, Dendrobium formosum, Dendrobium infundibulum dan Dendrobium draconis.  
Phalaenanthe. Memiliki batang yang relatif panjang,berdaging, menebal ke ujung dan bagian bawah ditutupi pelepah daun yang tidak berkembang. Daun kaku dan berdaging. Pembungaan tumbuh dekat ujung batang saat daun masih utuh; panjang tangkai bervariasi tergantung spesiesnya; bunga berukuran agak besar, dalam satu tangkai bisa terdapat sampai belasan kuntum; bunga berbentuk menyerupai kupu-kupu atau bundar dimana ukuran petal lebih besar ketimbang sepalnya. Bunga umumnya berwarna ungu atau putih; mentum terbagi dua dan bibir membulat di bagian sisi. Spesies dari seksi ini tersebar di Papua, Maluku, NTT ke selatan sampai ke Australia. Contoh spesies : Dendrobium affine, Dendrobium phalaenopsis, Dendrobium bigibbum dan Dendrobium superbiens.  
Ceratobium. Memiliki batang yang bervariasi, dari pendek hingga yang panjang; bagian bawah tertutupi beberapa selaput tipis; bagian pangkal menebal kemudian menipis ke ujung. Daun kaku berdaging dan besar. Bunga juga bervariasi, ada yang berbentuk tanduk maupun berbentuk bintang, petal dan sepal sempit dan bagian tepi petal memilin, pada beberapa spesies petalnya sangat panjang dan tumbuh tegak; malai bunga tumbuh dekat ujung batang, tangkai bunga panjang dan mampu memunculkan bunga 30-40 kuntum; bibir bunga sempit menyatu dengan kaki column sehingga membentuk suatu taji ramping. Seksi ini memiliki sekitar 30 spesies diantaranya, Dendrobium sutiknoi, Dendrobium Stratiotes, Dendrobium antennatum, Dendrobium schulleri, Dendrobium gouldii, Dendrobium johannis, dan Dendrobium lineale. Penyebarannya mulai dari New Guinea hingga Jawa Timur, umumnya tumbuh di dataran rendah pada pepohonan serta bebatuan dekat pantai.  
Stachyobium. Pseudobulbnya agak ramping dan berdaun tipis. Tangkai bunga muncul di ruas bagian tengah dan atas batang; petal berwarna kuning pucat sampai kehijauan; bibir berbelah tiga bagian dan mentumnya agak pendek dengan ujung tertutup taji. Spesies  dari seksi ini asli Birma dan Thailand, contohnya adalah Dendrobium delacouri, Dendrobium flavidulum dan Dendrobium eriaeflorum.  
Pedilonum. Memiliki  batang yang agak ramping namun berdaging. Daun keluar dari buku-buku batang. Bunga besar dengan warna bervariasi, pada spesies tertentu ukuran bunganya tidak seragam; mentum panjang dan tirus di ujung; bibir terkadang tidak berbelah dan kalus tidak jelas; tangkai bunga muncul serempak pada batang yang sudah tidak berdaun. Spesies yang termasuk dalam seksi ini diantaranya adalah Dendrobium secundum, Dendrobium metrium, Dendrobium hughii, Dendrobium sanguinolentum, Dendrobium derryi, Dendrobium calicopis, Dendrobium lamellatum, Dendrobium megaceras, Dendrobium cornutum, Dendrobium roseatum dan Dendrobium brinchangensis.  
Distichophyllum. Tanaman bersemak, batang tumbuh rapat, langsing dan saling berdekatan; ruas batang pendek (0,5 – 2 cm). Daun agak pendek; tumbuh sangat rapat dan rapi, agak membulat, panjang antara 2 – 10 cm dan lebar 0,5 – 2 cm. bunga agak kecil dan tumbuh soliter atau berkelompok pada batang yang masih berdaun; warna putih, krem, kekuning-kuningan sampai oranye pucat; petal dan sepal bagian pangkal agak sempit; bibir berbelah tiga dan agak berdaging. Di seksi ini sudah ditemukan 8 spesies diantaranya Dendrobium uniflorum, Dendrobium bifarium, Dendrobium hosei, Dendrobium metachilinum, Dendrobium pahangense, Dendrobium revolutum dan Dendrobium pandaneti.  
Rhopalanthe. Berbatang kecil, bagian bawah berdaging dan diselimuti selaput daun. Daun muncul di tengah batang, berbentuk rata dan agak membulat. Bunga muncul dari ujung batang yang tidak berdaun. Contoh spesies : Dendrobium peculiare, Dendrobium setifolium, Dendrobium clavator, Dendrobium truncatum, Dendrobium hendersonii dan Dendrobium crumenatum.  
Aporium. Batang kecil, tumbuh rapat, pendek dan beberapa diantaranya ada yang agak panjang. Berdaun tebel, berdaging, rapat dan saling menutupi di bagian dasar. Bunga kecil, mudah pecah, berwarna putih, kuning kehijauan bahkan ada varian yang berwarna perak. Inilah beberapa spesiesnya : Dendrobium rosellum, Dendrobium aloifolium, Dendrobium rhodostele,  Dendrobium lobatum, Dendrobium leonis, Dendrobium indivisum, Dendrobium grande dan Dendrobium prostratum.  
Oxytophyllum. Tersebar di dataran rendah dan pegunungan. Daun muncul di ujung batang. Bunga berwarna kekuning-kuningan atau ungu tua; tekstur agak tebal; bibir sempit dan tidak berbelah dengan ujung tirus kecil; tangkainya memanjang ke ujung. Contoh spesies ini antara lain : Dendrobium sinuatum, Dendrobium excavatum, Dendrobium carnosum dan Dendrobium antro-robens.  
Stongile. Memiliki batang kecil dengan bagian pangkal agak berdaging dan ujung tidak berdaun. Daun agak bulat memanjang dan saling menutupi. Beberapa spesies memiliki bunga lebih kecil. Yang termasuk dalam seksi ini antara lain : Dendrobium singaporense, Dendrobium acerosum, Dendrobium subulatum, Dendrobium flexile dan Dendrobium kentrophyllum.  
Grastidum. Berbatang langsing, panjang dan kecil. Daun mirip rumput dengan daun pelindung pendek dan kaku. Bunga agak kecil dengan mentum pendek. Spesiesnya antara lain : Dendrobiumpensile, Dendrobium indragiriense dan Dendrobium salaccense.  
Conostalix.  Memiliki batang kecil dan agak kenyal. Daun panjang sekitar 6 cm dan lebar 6 mm, seludang daunnya terbuka; bunga kecil berwarna pucat, muncul berpasangan dari batang yang masih berdaun.  Dasar bibir bersatu dengan sisi kaki column dan membentuk taji. Baru ada tiga spesies yang dikenal dalam seksi ini yaitu : Dendrobium lobii, Dendrobium melanochlamys dan Dendrobium pachyglossum. 
Dendrobium Stratiotes merupakan dendrbium  pada seksi Ceratobium Yang Memiliki batang yang bervariasi, dari pendek hingga yang panjang; bagian bawah tertutupi beberapa selaput tipis; bagian pangkal menebal kemudian menipis ke ujung. Daun kaku berdaging dan besar. Bunga juga bervariasi, ada yang berbentuk tanduk maupun berbentuk bintang, petal dan sepal sempit dan bagian tepi petal memilin, pada beberapa spesies petalnya sangat panjang dan tumbuh tegak; malai bunga tumbuh dekat ujung batang, tangkai bunga panjang dan mampu memunculkan bunga 30-40 kuntum; bibir bunga sempit menyatu dengan kaki column sehingga membentuk suatu taji ramping.
Dengan keunikannya D.Stratiotes banyak diminati oleh masyarakat dan para hobiis anggrek.
Segituh dulu materi Kultur jaringan nya....lain waktu kita lanjutkan

Enter your email address to get update from DESA CILEMBU.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2008 - DESA CILEMBU | Privacy Policy | Disclaimer | About | Created by Kompi ajaib - Powered by Blogger