DESA CILEMBU

Pembangunan Jalan Desa


Latar Belakang
  • upaya mendukung program pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan dan memperkuat implementasi tata kelola pemerintahan dalam pembangunan yang berbasis langsung dari inisiatif dan partisipasi aktif masyarakat dalam membangun infrastruktur dasar perdesaan.

  • Penunjang Kesinambungan dari program pemerintah dalam Program Konpensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak di bidang Infrastruktur Perdesaan (PKPS-BBM IP) pada tahun 2005, Rural Infrastructure Support (RISP)pada tahun 2006, Program pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP) yang dimulai pada tahun 2007 s.d. 2011
Maksud Dan Tujuan
  • Merealisasikan Pembangunan Infrastruktur Perdesaan dengan pendekatan pemberdayaan dan pastisipasi aktif masyarakat individu maupun kelompok untuk mendukung kegiatan : Ekonomi, Sosial serta sentra-sentra produksi perdesaan agar tetap tumbuh berkesinambungan dan dapat berkembang lebih baik.
  • Meningkatkkan aksesibilitas infrastruktur dasar masyarakat perdesaan melalui infrastruktur jalan dan jembatan perdesaan.
  • Meningkatkan kemampuan dan peran serta masyarakat dalam penanganan prasarana dari awal sampai akhir infrastruktur yang dibangun serta penguatan partisipasi aktif kelembagaan di perdesaan.
  • Meningkatkan hasil pendapatan masyarakat perdesaan selama masa operasional pembangunan konstruksi dan pasca konstruksi (pemeliharaan)
Sasaran
  • Tersedianya infrastruktur perdesaan yang memadai  dan tepat guna.
  • Meningkatnya kemampuan masyarakat desa dalam penyelenggaraan infrastruktur perdesaan.
  • Meningkatkan tersedianya lapangan pekerjaan bagi masyarakat miskin perdesaan.

Lingkup Pekerjaan
Lingkup Pekerjaan Jalan dan Jembatan

  • Tahapan Pekerjaan :
# Perencanaan :
  - Penetapan UPD
  - Spesifikasi Teknis
  - Gambar
  - RAB
# Pelaksanaan Kegiatan :
  dilakukan OMS sebagai pelaksana fisik dengan pendampingan oleh fasilitator Teknis dan TAMK sampai penyerahterimaan pekerjaan kepada Satker Kabupaten
# Operasional dan Pemeliharaan:
  - Pengelola Infrastruktur dan Pemeliharaan à Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP)
  - Sumber Dana à sumber yang sah dan sumber lain (pendapatan asli desa, bagi hasil pajak daerah dan retribusi kab/kota, bagian dari dana perimbangan keuangan pusat/daerah, bantuan dari pemerintah/propinsi/kab/kota, hibah/sumbangan dari pihak ke3, gotong royong/kerjabakti/swadaya masyarakat, dll
 
 
Konstruksi Jalan Desa
ØKonstruksi jalan baru yang dibangun di wilayah Perdesaan à lebar perkerasan jalan antara 2,5 – 3,0 meter.
ØJenis  kontruksi ditentukan berdasarkan jumlah atau volume lalu-lintas yang melewati badan jalan tsb.
ØKlasifikasinya terdiri dari :
Jalan tanah dipadatkan (< 50 kendaraan roda 4 per hari)
Jalan yang diperkeras dengan kerikil/ sirtu (50 – 100 kendaraan roda 4 per hari)
Jalan yang diperkeras secara Telford (50 – 100 kendaraan roda 4 per hari)
Jalan dengan perkerasan aspal (50 – 100 kendaraan roda 4 per hari)
Jalan dengan perkerasan beton (50 – 100 kendaraan roda 4 per hari).
ØHal yang harus diperhatikan dalam pebuatan jalan baru :
Trase jalan mudah untuk dibuat
Pekerjaan tanahnya relatif cepat dan murah
Tidak banyak bangunan tambahan (jembatan, gorong-gorong, dll)
Pembebasan tanah tidak sulit
Tidak akan merusak lingkungan dan
ØHal yang harus diperhatikan dalam peningkatan jalan lama :
Memungkinkan dilakukannya pelebaran jalan
Geometri jalan harus disesuaikan dengan syarat teknis
Tanjakan harus diubah sesuai standar, dengan memperhatikan:
Sistem drainase dan pekerjaan tanah tidak merusak lingkungan
ØKualitas Campuran = standar beton à 1 semen : 2 Pasir : 3 Kerikil  
ØPersayaratan Material :
# Pasir maupun krikil harus bebas dari bahan lain seperti tanah lempung, sampah, dan kotoran lainnya. 
# Krikil harus keras dengan bidang pecah minimal 3 bidang 
# Tebal konstruksi 15 cm 
# Proses pencampuan dengan air tidak boleh terlalu banyak. 
 
ØHal-hal yang harus diperhatikan pada pelaksanaan pekerjaan jalan beton: 
  • Tanah dasar dibentuk punggug sapi  
  • Pasir beton dihampar setebal 5 cm dan dipadatkan   
  • Dipasang papan cetakan untuk membatasi ketebalan yang disaratkan   
  • Adukan beton dituang ke permukaan dan dipadatkan dengan penggetar atau ditusuk-tusuk dengankayu. 
  • Dipasang papan cetakan untuk membatasi ketebalan yang disaratkan  
  • Adukan beton dituang ke permukaan dan dipadatkan dengan penggetar atau ditusuk-tusuk dengankayu. 
  • Permukaan dibuat kasar dengan menggunakan sapu lidi kea rah menyamping.   
  • Setiap 1 m memanjang dibuat dilatasi/ tali air dengan lebar 1 cm dan dalam 2 cm untuk mencegah retak 
  • Pemakaian setelah umur beton minimal 21 hari dihitung dari akhir pengecoran   
  • Permukaan harus selalu dibasahi selama minimal 7 hari setelah beton mengeras. 
      
Standar teknis jalan desa lainnya yang harus diperhatikan:

  1. Persimpangan 
  2. Tikungan pada Tanjakan Curam  
  3. Bentuk Badan Jalan  
  4. Permukaan Jalan  
  5. Bahu Jalan  
  6. Pemadatan Tanah 
  7. Perlindungan Tebing 
  8. Saluran Pinggir Jalan 
  9. Pembuangan dari Saluran dan Gorong-gorong   
  10. Drainase Air Tanah 
  11. Perlakuan Vegetatif
  12. Stabilisasi Tanah
  13. Pembangunan Jalan Di Daerah Rawa   
Standar Teknis Jalan Desa lainnya yang harus diperhatikan  
  1. Persimpangan tempat harus kelihatan dari tempat sebelumnya    
  2. Tikungan pada tanjakan Curam 
    • Perkerasan pada tikungan diperlebar menjadi > 4 m  
    • Tikungan dibuat pada bagian datar untuk mempermudah perjalanan bagi yang naik atau turun 
    • Perencanaan drainase jalan dibuat sedemikian hingga saluran dari atas diteruskan lurus ke depan dan airnya dibuang jauh dari jalan, dan saluran pada jalan bagian bawah dimulai dari luar bagian datar (sesudah tikungan)  
    • Pola tikungan di daerah tebing curam dibuat patok-patok pengaman dan peringatan.  
    3. Bentuk Badan Jalan 
    • Pada kondisi biasa badan jalan dibuat miring ke saluaran tepi dengan kemiringan badan jalan 4-5%.  
    • Untuk daerah relatife datar, badan jalan dibuat sepertipunggung sapi” (lebih tinggi ± 6-8 cm di bagian tengah) dengan catatan bila punggung sapi sudah terlihat dengan mata telanjang berarti sudah cukup miring untuk drainase.  
    • Pada tikungan jalan dibuat miring ke dalam dengan kemiringan maksimal 10% dan perlebaran perkerasan dibagian dalam tikungan demi keamanan dan kenyamanan.  
    • Pada jurang jalan dibuat miring ke arah bukit dan saluran, hal ini demi keselamata.
4.Permukaan Jalan
Penetuan Tebal Lapisan  Batu Belah disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan batu. Tebal 15 cm à batu belah ukuran 8/15; tebal 20 cm à batu belah 15/20. Lapisan batu belah dapat diganti lapisan sirtu tebal 2-5 cm  
Petunjuk pelaksanaan untuk perkerasan jalan antara lain :
  • Tanah asli di bawah lapis pondasi harus dipadatkan dengan alat pemadat (mesin gilas, steamper, timbres) dengan kemiringan yang direncanakan untuk permukaan. 
  • Lapisan podasi paling bawah adalah lapisan pasir yang berfungsi untuk memudahkan pemasangan batu permukaan dengan rapi dan rata. 
  • Batu belah harus dipasang tegak lurus dengan as jalan (melintang), dengan ujung yang lebih runcing di atas agar bila terbebani tidak akan tembus lapisan pasir dasar, dan dikunci dengan batu kecil. 
  • Lapisan paling atas berupa campuran pasir dengan tanah terpilih, atau dapat terbuat dari sirtu dan atau kerikil 2 - 5 cm, yang kemudian dipadatkan dengan mesin gilas roda besi (tandem roller).
    5.  Bahu Jalan 
    • Dibuat disebelah kiri dan atau kanan sepanjang jalan, dengan lebar minimum 50 cm 
    • Harus dibuat dengan kemiringan yang lebih miring dari permukaan jalan, biasanya 6-8 cm (sama dengan turun 3-4 cm per 50 m’) 
    • Material penyusunnya seharusnya terdiri dari tanah yang dapat ditembusi air, sehingga pondasi jalan dapat dikeringkan melalui proses perembesan. 
    • Tanah pada bahu jalan harus dipadatkan. 
    • Lebih baik bila ditanami rumput ditepi luar bahu, mulai 20 cm dari tepi yang berfungsi sebagai stabilisasi tepi jalan. 
    •  Penanaman pohon perdu di luar bahu (dan saluran bila ada) untuk membantu stabilitas timbunan baru
 
      6.Perlindungan Tebing 
      7.Pemadatan Tanah à mesin Gilas, steamper,    atau trimbisin 
            •Saluran Diversi 
            •Teras Bangku 
            •Talud Batu Kosong 
            •Talud Pasangan Batu 
            •Bronjong 
            •Perlakuan Vegetatif 
8. Saluran Pimggir Jalan 
   •Dasar saluran dibuat kemiringan yang rendah untuk menghindari erosi tanah dasar saluran/plesteran
     dasar, namun tidak datar. 
   •Ketinggian dasar saluran harus lebih rendah dibanding lapisan pasir dibawah pondasi jalan untuk
     proses perembesan dan pengeringan pondasi jalan. 
   •Untuk saluran yang mudah erosi, perlindungan terdiri dari perkuatan talud dan dasar saluran serta
     pemberian bangunan drop struktur. Jenis perlidungan saluran antara lain dengan menggunakan
     rumput (gebalan), turap, batu kosong, atau pasangan. Bronjong dapat digunakan terutama pada
     tikungan di tanah yang peka erosi.  

Pertimbangan untuk pemilihan tipe perlindungan saluran pinggir adalah: 
Kemiringan saluran dan kecepatan air 
Jenis tanah 
Perubahan arah aliran pada belokan 
Debit air 

9. Pembuangan dari Saluran dan Gorong-gorong
Direncanakan untuk mengalirkan air ke sungai atau saluran yang mampu mengalirkan volume
  air tanpa merusak lingkungan 
 •Diawali dari gorong-gorong, saluran pinggir yang overloud dan berhenti pada sungai  atas 
   saluran besar yang ada. 
 •Ukuran saluran didesain dengan debit air terbesar, dengan ukuran minimal sama dengan 
   ukuran saluran pinggir yang standar (50×30)cm. 
  •Saluran ini harus dilindungi seperti saluran-saluran lain, untuk mencegah erosi dasar dan
    talud saluran.  
10.Drainase Air Tanah untuk mencegah air tanah naik ke permukaan jalan sehingga jalan tetap  dalam keadaan stabil dan tidak kehilangan agregat halusnya 
11.Perlakuan Vegetatif untuk mengurangi aliran permukaan dan meningkatkan infiltrasi. Dua sasaran utama yaitu mencegah erosi dan longsor. 
Nilai tambah lain dari perlakuan vegetatif yaitu: 
      •Lebih murah dibanding perlakuan sipil teknis 
      •Dapat memiliki nilai ekonomi sebagai sumber kayu bakar dan pakan ternak 
      •Mudah dilakukan dan terjangkau oleh masyarakat sekitar tanpa bantuan proyek. 
12.Stabilisasi Tanah Sebagai alternatif jalan kerikil atau telford pada lokasi dimana kerikil dan batu sangat mahal. 
      •Bahan yang digunakan dalam Stabilisasi Tanah : 
      •Semen, Bahan tambah semen digunakan untuk stabilisasi tanah jenis pasir kasar dan  pasir halus. 
      •Kapur, digunakan pada jenis tanah lanau halus, lempung kasar, dan lempung halus. 
      •Air, digunakan harus bersih, tidak mengandung bahan organik, minyak, dsb.
13.Pembangunan Jalan Di Daerah Rawa
dianjurkan menggunakan teknologi penggantian sebagian subbase (lapisan pondasi jalan diatas subgrade) (lapisan pondasi jalan diatas subgrade), kemudian dipasang matras galar kayu, cerucuk kayu, cerucuk dari papan atas, atau yang lain dengan memperhatikan ketinggian air minimum agar kayu selalu dalam keadaan terendam.