DESA CILEMBU

Analisis Pemasaran Ubi Cilembu

Komoditas pertanian yang memiliki prospek yang sangat cerah untuk terus dikembangkan melalui program diversifikasi pangan yang memiliki keunggulan dibandingkan dengan ubi jalar lainnya. Setelah postingan kemarin menyoal "Tantangan dari menteri BUMN", dan "Cara membuat Proposal", share kali ini adalah sebuah studi kasus yang bertujuan untuk menganalisis saluran dan fungsi-fungsi pemasaran, keragaman struktur, prilaku pasar, marjin pemasaran dan keterpaduan pasar, serta menganalisis efesiensi pemasaran ubi cilembu.
Data penelitian ini menggunakan data primer dan data skunder yang difokuskan kepada tiga saluran pemasaran yaitu :
  1. Petani - Bandar Besar - Pedagang Besar - Supermarket/Swalayan - Konsumen,
  2. Petani - Bandar Besar - Pengecer - Konsumen, dan
  3. Petani - Bandar - Pengecer - Konsumen
Analisis Pemasaran Ubi Cilembu
Setiap pelaku pemasaran melakukan fungsi-fungsi pemasarannya masing-masing yaitu fungsi pertukaran, fungsi fisik dan fungsi fasilitas, struktur pasar yang dihadapi para pelaku pemasaran yaitu untuk petani dan pedagang pengecer cenderung mendekati pasar persaingan sempurna, namun untuk pedagang bandar, bandar besar dan pedagang besar mengarah kepada pasar persaingan tidak sempurna(Oligopoli kata orang pinter mah...).
Dilihat dari perilaku pasar yang dihadapi, maka dalam praktek pembelian dan penjualan telah terjalin kerjasama sebagai cara untuk menciptakan stabilitas pasar. Dalam penentuan harga antara petani dengan pedagang berdasarkan tawar menawar namun petani tetap sebagai penerima harga. Sistem pembayaran harga yang terjadi adalah tunai dan tidak tunai. Analisis marjin pemasaran menunjukkan bahwa rantai pemasaran yang mempunyai marjin pemasaran terendah dengan farmer's share yang tinggi terdapat pada pola 3 (petani-bandar-pengecer-konsumen) baik untuk pemasaran ubi Cilembu mentah atau matang. Hal ini berarti dari segi teknis, pola 3 merupakan pola yang paling efisien dibandingkan dengan pola 1 dan pola 2.

baca : Cara membuka toko ubi cilembu
Berdasarkan analisis korelasi harga, maka terdapat hubungan yang kuat antara petani dengan pedagang bandar dengan nilai koefisien korelasi yaitu 0,921. Hal ini diperjelas dengan analisis IMC bahwa antara petani dengan pedagang bandar terpadu namun dalam jangka panjang, sedangkan dalam jangka pendek tidak terdapat keterpaduan diantara keduanya. Hal ini ditunjukkan dengan nilai IMC sebesar 2,71 dan koefisien b2 sebesar 0,733 (mendekati satu). Jika dilihat dari analisis transmisi harga antara petani dengan pedagang bandar diperoleh nilai elastisitas transmisi harga sebesar 0,75 artinya perubahan harga di tingkat pedagang bandar hanya dapat ditransmisikan sebesar 75 persen di tingkat petani. 
Oleh karena itu, peranan kelompok tani harus lebih diberdayakan sebagai wadah informasi mengenai standar harga dan kualitas....sudah selayaknya dinas terkait menjembataninya..!!
Enter your email address to get update from DESA CILEMBU.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2008 - DESA CILEMBU | Privacy Policy | Disclaimer | About | Created by Kompi ajaib - Powered by Blogger