DESA CILEMBU

Potensi Eksport Tepung Ubi

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Assalam'muallaiqum.Wr.Wb...Sampurasun...Rampes.
Potensi Eksport Tepung UbiPost kali ini dalam rangka ikut serta mensosialisasikan, penggunaan/pembiasaan terhadap masyarakat Endonesia dengan tepung Ubi jalar yang notabene kandungan gizinya lebih baik dan lebih tinggi bila dibandingkan dengan tepung terigu yang selama ini menjadi konsumsi masyarakat kita
Sohib penggemar ubi jalar? Enak kan?. Lantaran rasanya yang enak dan penggemarnya banyak itulah, ubi jalar memiliki peluang bisnis yang potensial.

Bisnis ubi jalar kini tak sebatas menjual umbinya dalam bentuk mentah atau mengolahnya menjadi aneka panganan. Belakangan, mulai banyak orang mengolah ubi jalar menjadi tepung. 
Di Indonesia, penggunaan tepung ubi jalar memang belum sebanyak di luar negeri. Tapi kondisi ini justru menjadi peluang bagi para pemain baru. Sebab pasar yang bisa dikembangkan masih besar. 
Di dunia ada tren peralihan orang dari konsumsi tepung terigu ke tepung ubi jalar. Di beberapa negara, seperti Jepang, Korea dan Amerika, popularitas tepung ubi jalar melebihi tepung terigu. Di Jepang, misalnya, harga tepung ubi jalar empat kali lebih mahal dari tepung terigu. Maklum, ketela rambat memiliki kandungan gizi tinggi. Salah satunya, "Ubi jalar mengandung beta karotin, baik untuk pencernaan,"
Sejauh ini tepung ubi jalar banyak digunakan rumah tangga dan pengusaha kecil dan menengah. Mereka menggunakannya sebagai bahan baku kue dan mie. Produsen mie lebih suka menggunakan tepung ubi jalar karena teksturnya lebih elastis dibandingkan tepung terigu. Selain pasarnya yang bisa meluas, bisnis tepung ubi jalar ini menarik karena pasokan bahan bakunya melimpah. Asal tahu saja, Indonesia termasuk lima besar negara penghasil ubi jalar terbesar di dunia, dengan produksi 2 juta ton per tahun. 
Dengan potensi produksi yang melimpah, harga tepung ubi jalar bisa lebih stabil ketimbang harga tepung terigu yang fluktuatif mengikuti harga gandum. Cakrawala, sebuah perusahaan produsen tepung ubi jalar, misalnya, menjual tepung ubi jalarnya dengan harga Rp 6.000 per kilogram (kg). Bandingkan dengan harga tepung terigu yang fluktuatif antara Rp 5.200 sampai Rp 11.000 per kg. (Moncongloi)sebuah preusahaan tepung ubi jalar lainnya, mematok harga lebih murah, yakni hanya Rp 3.500 per kg. "Bahan baku diambil dari petani dengan harga Rp 2.800 per kg," margin 10% sudah pasti kantongi perusahaan ini. Dalam sebulan, moncongloi bisa menjual 20 ton tepung ubi jalar. 
Hanya saja, para produsen mengaku, pengembangan pasar di dalam negeri masih sulit. Pasalnya, masyarakat kita belum terbiasa menggunakan tepung ubi jalar. Kebanyakan masyarakat masih lebih suka memakai tepung terigu. Karena itu, para produsen meminta Pemerintah juga terlibat aktif dalam mempromosikan tepung ubi jalar. "Sayang belum ada edukasi dari Pemerintah akan manfaat tepung ubi jalar, padahal kandungan gizinya lebih tinggi ketimbang terigu,".
Kumaha yeuh?!

Enter your email address to get update from DESA CILEMBU.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2008 - DESA CILEMBU | Privacy Policy | Disclaimer | About | Created by Kompi ajaib - Powered by Blogger