DESA CILEMBU

MALU

Membuat jadwal pelajaran
kreasi sendiri
Assalam'muallaiqum.wr.wb...Sampurasun...Rampes.
Desa Cilembu, MALU ~ Terinspirasi dari sohib kpk blog Zachflazz tentang bagaimana memancing anak untuk kreatif tanpa harus mahal yang dilakukan adminnya terhadap putra putrinya, membuat saya terpesona, sebagai orangtua yang tinggal didesa tentu keinginan memiliki putra putri yang kreatif, cerdas, tekun dan selalu bersemangat menimba ilmu, menjadi pemicu untuk dapat melakukan hal yang sama dengan para orang tua yang tinggal dikota besar yang akses kesegala bidangnya lebih mudah, karena sarana dan prasarananya ada dan lengkap.

Lalu saya berfikir keras, apa kira-kira yang bisa dilakukan untuk anak-anak desa yang jelas jelas akses kedunia luar sangat minim, kegiatan sehari-hari mereka selain sekolah adalah mengaji disurau surau kecil yang ada disekitar tempat tinggal mereka, kursus/private ini dan itu yang biasa dilakukan anak kota, jauh dari bayangan mereka....selain juga karena sifat kreatif dari orang tuapun juga minus, bagaimana bisa kreatif kalau keseharian mereka(termasuk saya) bertani dan berdagang, dunia yang digeluti para orang tua sehari harinya dan berlangsung selama bertahun-tahun hanya itu ke itu mulu...
contohnya: tersebutlah seorang muda kaya, sengaja membawa para ibu 30 tahunan keatas piknik kesebuah Mall di kota Bandung, hanya ingin mereka merasakan naik lift dan eskalator yang ada diMall tersebut, dan apa yang terjadi...?ada yang mabuk, bahkan ada yang membuka alas kaki saat akan menaiki eskalator, sungguh miris dan menyedihkan dan seperti itulah kenyataannya.

Apa akibat lainnya?...mereka sangat tidak percaya diri, kalimat "MALU" adalah senjata pamungkas mereka untuk bersembunyi dari keinginan mereka. hal ini tidak hanya terjadi pada anak-anak, remaja, bahkan para orang tua pun menjadikan kalimat MALU sebagai alasan untuk tidak berbuat apapun.

Saya tidak ingin anak-anak mengalami hal yang sama dengan contoh diatas, Lalu...apa yang saya lakukan?saya baru bisa berpikir sekeras mungkin, apa yang dapat dilakukan untuk mereka, dan belum dapat berbuat apapun untuk mereka...sabar ya nak!...ayah dagang ubi dulu.

Memang pada Tahun 2011 PNFI Regional 1 Jawa Barat pernah memberi bantuan berupa sarana dan prasarana TBM(Taman Bacaan Masyarakat) dengan tujuan, selain menjadi perpustakaan Desa, juga diharapkan menjadi pusat kegiatan remaja dan anak-anak dalam mengembangkan dan menggali potensi, sayang sarana bantuan itupun tidak berjalan dengan harapan, karena ditinggalkan oleh para pengelolanya, cari duit kekota, atau ditinggalkan begitu saja karena ngurus TBM ngga ada honornya..."ngurusin TMB wae...ari duit teu boga...rek ng'daharan buku, anak jeung pamajikan sayah"(mengurus TBM terus...padahal ngga punya uang...mau makan buku anak dan istri saya)...begitu kira2 keluhan para pengelola itu.

UNTUK DIKETAHUI DINAS TERKAIT
wajarlah bila hampir 80% bantuan pemerintah yang datang untuk desa tidak ada yang berjalan berkesinambungan,(kecuali bantuan yang bersifat usaha dan koperasi)terutama yang pengelolaannya diserahkan kepada masyarakat setempat, apa sebabnya?
jawaban(persi mamang) adalah : 
  1. warga desa adalah warga petani dan pedagang, bukan pegawai kantoran yang waktu luangnya cukup, hitungan untung rugi kehidupan lebih kentara.
  2. daripada mereka berkegiatan ngga ada juntrungannya mereka lebih suka jadi kuli pacul atau ngojeg untuk cari uang.
  3. para orang tua pun tidak mengikhlaskan anak remaja mereka berkegiatan tanpa dapat menghasilkan apa-apa.
  4. ilmu dan pengalaman yang dapat digali dari berkegiatan, bagi mereka tidaklah menjadi penting.
  5. jadi relawan...relawan hanya cocok untuk mahasiswa dan pelajar, didesa mana ada mahasiswa,(kalaupun ada, mereka pasti ng'kos dikota) pelajar SMU, pulang sekolah lebih banyak membantu orang tua mereka disawah dan ladang.

[]Ada ide... untuk mereka?
Enter your email address to get update from DESA CILEMBU.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

42 komentar

Pertamax lagi.sudah ngantuk.posting nya di baca besok.sekarang komen dulu xixixi

Balas

ya, gimana ya pak, kalo di desa itu kesadaran untuk belajar terkadang sedikit. tai biarkanlah orang desa seperti itu, toh buktinya sekrang banyak orang desa yang sukses dan jadi orang besar...

Balas

Pertama ikut prihatin atas kondisi warga seperti itu kang, yang kedua tentunya harus ada peloprnya, mulailah dari beberapa pemuda desa untuk memuali perubahan dengan keluar dari comfort zone yaitu berusaha melawan arus kebiasaan penduduk, program pemerintah sebagus apapun tanpa dukungan warga ya ga ada artinya ya kang...
Sakitu wae kang, hapunteun lah...:)

Balas

Kang, itulah kultur, kekhasan, dan citra dari sebuah desa. itu tidak perlu diubah atau diganti. modernisasi terhadap pemikiran perlu, tapi bukan modernisasi falsafah. rasa malu pun menjadi perhiasan desa yang layak dipertahankan, terbukti angka korupsi di sebuah desa konvensional jarang ditemukan, sementara di kota merajalela. saya berpendapat, pembaharuan jelas diperlukan, namun tidak untuk falsafah. pembaharuan teknologi dan pemerataan pembangunan di segala bidang sajalah yang diperlukan sebagai kebutuhan mendesak di saat sekarang.

Balas

keprihatinan Mas Muroi sangat beralasan. tapi kalo saya lebih memandang koneks kelemahan yang disampaikan Kang Cilembu adalah aset yang justru bisa didayagunakan. lihatlah budaya malu yang kental, itu sudah jarang dipunyai masyarakat di luar sana.

Balas

nah, mas putra nulis "tapi" jadi apa tuh...
hehe

Balas

Aku sepakat dengan Mas Zach tentang kultur masyarakat pedesaan, memang disitulah letak nilai luhur dari karakter masyarakat desa. Ini memang harus dipertahankan, tentunya sebagai landasan kebaikan untuk mengimbangi sifat serakah dan semena-mena.

Tapi jika melihat ekspektasi Kang Hadi tentang hal ini, aku mengartikan kata "MALU" disini sebagai bentuk ketidakpercayadirian dan keraguan masyarakat desa dalam melakukan hal-hal yang diluar kebiasaan turun-temurun pada ruang lingkup kehidupan mereka. Itulah salah satu faktor yang menyebabkan tersendatnya proses pengembangan diri, sehingga mereka cenderung berpikir monoton dan tertutup terhadap hal-hal yang bersifat investasi jangka panjang. Menurut mereka, hal seperti demikian tidak realistis atau tidak menghasilkan materi secara langsung, sehingga tidak tercipta ketertarikan pada hal ini. Ini memang sangat beralasan, karena seperti yang Kang Hadi bahas diatas, lagi-lagi menyangkut kesejahteraan ekonomi.

Jadi, selama program pemerintah yang melibatkan kemandirian masyarakat itu tidak memberikan efek kesejahteraan ekonomi secara langsung terhadap masyarakat itu sendiri, aku pesimis program tersebut akan berjalan dengan mulus dan berkesinambungan.

Hapunten upami komen Rudy aya anu lepat, nyuhunkeun koreksina.

Balas

Aaaaa tidaaaak...

#tutup mata

Balas

aku hanya jadi pengamat aja deh. komen2nya udah dibahas gamblang oleh beberapa orang diatas. aku nggak kebagian bahan.

Balas

Setelah baca Postingan mamang di atas, kok saya jadi malu utk komentar. Apa lg saya masih newbie utk memberikan masukan kepada Bapak2 disini. Nyimak saja yach?

Balas

wah wah rupanya bang Zachflazz berhasil membuat kang Lembu terpesano eh terpesona. Ini terbukti pembelajaran dan pendidikan anak anak yang diberikan oleh Bang Zachflazz memang baik dan menjadi contoh teladan bagi keluarga yang lain. Jelas, Father of the year. Bapak Teladan tahun ini

Balas

Semoga budaya Malu nya jangan mengikuti "budaya" saya yang jelek jika merasa malu, dipermalukan atau malu maluin. jadi sudah pada tau donk kalau saya malu. Dampaknya kurang sehat hiehehiehiehe

Balas

wah banyak yang malu di lapaknya kang Lembu. Semoga tidak disertainya "mlorotin celana massal" di sini. Karena dampaknya tidak baik buat kesehatan

Balas

Benul eh betul. Saya mau komentar panjang dan lebar sepertinya sudah diwakili sama yang lain. Jadi sama seperti cak Budy jadinya kehabisan lahan deh disini. Ya udah buka lapak sendiri saja di sini sambil gelar tiker. Bubur Ayam sudah stok dari rumah. Duduk duuk aja deh

Balas

budaya malu yang salah tempat ya kang saat ini, malu untuk maju tapi tidak malu berbuat korupsi

Balas

biarin azh jangan disensor dia adik saya...lain bapak, lain ibu..

Kang asep :..beneran saya terpesona, liat hasilnya dari keduanya arien dan agrie, saya kepingin ngga cuman anak2 saya yang seperti mereka, tapi bisa nerapin juga ke anak desa lainnya...walau baru sekedar mimpi...mimpi kan masih gratis kan?...;o)

Balas

ahay...tumben komentar kang zach jeli dan mendalam.
Budaya MALU dengan MALU karena tidak PERCAYA DIRI, konteksnya bersebrangan kang.
wuiih..kita ini keren kalau udah serius ya..kliatan banget kalau kita emang tidak sinting...#artikelnya kang KS

Balas

sungguh nehnik komentar kang rudy, jarang-jarang loh.
bener banget kang, itu yang saya maksudkan tentang MALU diatas.

kang zach:..terimakasih urunrembug dan masukannya akan saya bawa ke "Musrendes" awal bulan depan.

Balas

pertamax talian pake tali rapiah nya'

Balas

terkadang kalo di desa kang lebih mementingakn hidup dari pada hal beginian kayak baca" kang

Balas

sebentar lagi mas agus pasti datang bawa komen lagi

Balas

alhamdulillaah sudah menginspirasi. masukan dan kritikan selalu saya tunggu Kang

Balas

kita bisa jadi anggota kabinet yang hebat loh kalo lagi serius.

Balas

kapan KPK ada musrebdes?

Balas

biasa, mbak indah kan sukanya baca judul. huhh

Balas

masih tidur kang..tuh belum balik lagi...hehehe

Balas

Berkunjunga sambil mencari Inspirasi

Balas

kapan ya....*mikir dulu

Balas

bang Zach mulai paham..xixixi

Balas

saya sudah paham sebelum lahiran malah...;o)

Balas

wajah desa rezeki kota...

tapi sekarang kayaknya di desa mulai maju kang.

Balas

paham apanya dulu nih?

Balas

ikut nimbrung akhhhh....capek jagain lilin

Balas

ini gak nyambung akhhh sama teorinya darmin

Balas

ikut mas Budy dan mas Asep ajalah....nyimak :D

Balas

negerinya siapa seh?...;o)

Balas

persis, makanya program cuman suam-suam kuku doang.

Balas

tengkyu kunjungannya

Balas

beda tipis sama tukul arwana deh...;o)

aaaamiiiin, berkat ramuan kang KS kan?!

Balas

segera setelah kang KS pubish yang setipis silet nya...tak tunggu banget lo kang

Balas

paham. dimana dia kelak kan berlabuh..huhuy

Balas

Copyright © 2008 - DESA CILEMBU | Privacy Policy | Disclaimer | About | Created by Kompi ajaib - Powered by Blogger