DESA CILEMBU

Cintai Istrimu Karena Allah

Cintailah istrimu di bawah cinta kepada Allah! Jangan sampai kecintaan kepada keluarga menjadi ketergantungan yang membelenggu dan melumpuhkan. Saling mengasihi yang tidak dilandasi agama, suatu ketika bakal menjadi batu sandungan dakwah.
الْأَخِلَّاء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِي
“Para kekasih pada hari itu (kiamat) sebagian mereka terhadap sebagian yang lain menjadi musuh kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Az-Zuhruf: 67)

Ketergantungan kepada selain Allah adalah indikasi kelemahan jiwa. Umar bin Khattab pernah menyuruh putranya, Abdullah bin Umar, satu dari tujuh ulama besar sahabat Rasulullah, untuk menceraikan istrinya. Pasalnya, ia terlalu berlebihan dalam mencintai istrinya itu.

Terkadang, ia terlambat shalat berjamaah karena asyik menyisir rambut istrinya. Sekalipun ia mempertahankan istrinya yang tercinta, tetapi Umar menganggapnya sebagai kelemahan jiwa.

Cintai Istrimu Karena Allah
Ketika seorang sahabat mengusulkan kepada Umar untuk mencalonkan putranya sebagai khalifah ketiga saat menjelang wafatnya, beliau menolak. “Aku tidak akan pernah menyerahkan amanah ini kepada seorang laki-laki yang lemah, yang tak berdaya menceraikan istrinya,” kata Umar.
Ibnu Abbas dan Mujahid mengatakan: "Pada hari kiamat setiap kekasih hati menjadi musuh kecuali orang-orang yang bertaqwa."

Sedang Al-Hafidz Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: "Jika antara dua orang saling mencintai karena Allah, yang seorang di Timur dan yang seorang lagi di Barat, maka pada hari Kiamat Allah pasti akan mempersatukan keduanya sambil berfirman: "Inilah orang yg kau cintai karena-Ku..."
Agamalah yang bisa memberikan keterampilan kepada pemeluknya untuk mengelola fluktuasi (naik turun) kehidupan dengan semangat yang sama. Sedih dan gembira, suka dan duka, gagal dan sukses, adalah peta realitas kehidupan dunia.
Dinamika kehidupan dipersepsikan dan disikapi sebagai romantika, sehingga istri bisa menjadi teman abadi sepanjang hayat di dunia dan di akhirat. Tidak sebatas pandai dalam menjalin kasih secara biologis, tetapi terampil dalam memetakan masalah dan memutuskan risiko yang terjadi pascanikah.

Membangun Sandaran Spiritual

Syaikh Hasan an-Naisaburi, seorang ulama yang alim, pada usia 40 tahun belum juga menikah. Di tengah kesibukannya, datanglah seorang gadis shalihah yang cacat (bermata juling) dan miskin memberanikan diri untuk menghibahkan dirinya kepada beliau.
“Wahai Ustadz, sudikah engkau berkeluarga dengan orang yang fari ini?” kata gadis itu.
Sang ulama tergagap, seakan-akan telinganya disambar petir, diingatkan akan sunnah Rasul yang selama ini seolah-olah terhapus dalam memorinya. Segera, setelah itu ia bisa menguasai diri.
Beliau menjawab, “Apakah sudah engkau pertimbangkan secara matang hidup denganku yang sudah tua ini? Ingat masa depanmu masih panjang! Jangan engkau korbankan harapanmu denganku!”

Singkat cerita, lamaran gadis tersebut diterima. Sang gadis, terutama bapaknya, segera melakukan sujud syukur, “Alangkah senangnya kehidupanmu kelak, Nak. Bapak doakan semoga pernikahanmu ini yang pertama dan terakhir. Anakku, ditinjau dari berbagai segi, sesungguhnya kamu tidak sekufu dengan ustadz. Baik dari sisi usia, keilmuan, harta, dan keturunan. Tetapi alhamdulillah, permohonanmu diterima dengan tangan terbuka. Doa apakah yang selalu kamu panjatkan kepada Allah selama masa penantianmu yang panjang, Nak?”
Selama lima tahun mujahid yang harum namanya itu berdampingan dengan wanita yang cacat fisik, tetapi sukses mengarungi samudera kehidupan berkeluarga tanpa hambatan yang berarti. Ia berhasil merangkai keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, wa muthmainah.

Sekalipun banyak ketidakcocokan di tengah jalan, tetapi dengan mudah dicarikan jalan keluar. Tentu, pasangan ini tidak terfokus perhatiannya pada hal yang bersifat lahiriah. Sang ulama menyadari, jika tidak menyukai satu sifat istri, palingkan penglihatanmu pada sisi yang lain.
Kalau kita baca tarajum (riwayat kehidupan) sang ulama, bisa dipahami bahwa kesamaan cinta kepada Allah-lah yang bisa mempertahankan dan merawat keharmonisan rumah tangga mereka sampai 15 tahun.
Suatu hari, sang istri yang cacat itu lebih dahulu kembali kepada Allah. Sang ulama menuliskan bait-bait puisinya yang melukiskan kepedihan hatinya, karena terlalu cepatnya berpisah dengan belahan jiwanya. “... Sungguh istriku, hati kita yang telah terbuhul... dengan cinta kepada Allah.”
Ia selalu terkenang dengan istrinya yang cacat fisik tetapi hatinya laksana intan mutiara. Lentera di dada.

Rasulullah berpesan, “Janganlah laki-laki mukmin membenci istrinya yang mukminah. Bila ada perangai istri yang tidak disukai, dia pasti ridha (senang) dengan perangai istri yang lain.” (Riwayat Muslim)
Enter your email address to get update from DESA CILEMBU.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

25 komentar

sementara saya mampir pagi dulu disini sekalian apsen... *toss dulu Kang

Balas

Kunjungan pertama nih kan salam kenal...

Artikelnya sangat bermanfaat hatur Thankyou udah share!

Balas

sekalian ngga kecup basah gituh kang?

Balas

kenalan?!.....
manfaat darimananya?...basa basi banget ente mah lah!!

Balas

masya allaah. sejuk lagi.

Balas

cinta pada ALLAH adalah kewajiban semua manusia yang merasa dirinya adalah hamba ALLAH sejati,
bila cinta pada ALLAH itu ikhlas dan tulus dilakukan, maka ALLAH akan membalasnya dengan melimpahkan cinta-NYA dan cinta dunia-NYA kepada hamba-NYA yang sejati......salam :-)

Balas

saya sampe menunduk baca komentar dari abang....sambil berguman..."tumben"....;o)

Balas

Bismillah, bagi para wanita, cintailah suamimu karena Alloh.

cinta karena Dia tak akan pernah menimbulkan sakit hati dan kecewa, Alloh sudah menjaminnya.

Balas

yang belum punya istri gimana nih kang? ^_^

Balas

postingannya lama-kelamaan bikin sejuk di hati.

Balas

Saya malahan baru tahu akan kisah anak Umar Bin Khatab ra yang tidak mau mnceraikan istrinya ini Kang...
Terima kasih atas berbagi pencerahan dan bisa menjadikan pelajaran buat kita semuanya.

Balas

kalau cintai pacar kyk gimana mas ?? wkwkwkwk

Balas

Insya Allah...sy mencintai ibu dari anak-anak...karena Nya....kang :)

,,,,
Kang tampilan kotak komennya kok...blm di benerin...kalo lewat hp..susah buat komen...
Coba test dah... :)

Balas

ooo gituh ya.....saya malah ngga ngerti ng'blog via Hp...seumur2 belom pernah banget tuh kang....gimana benerinnya ya?

Balas

ooo gituh ya.....saya malah ngga ngerti ng'blog via Hp...seumur2 belom pernah banget tuh kang....gimana benerinnya ya?

Balas

kalau ke pacar mah, cukup seperti kita mencintai kendaraan harian kita azh kang....anggap azh motor tiger lah gituh....wkwkwk

Balas

kerasanya sampe Makjleb sampe ketulang sum-sum ya m'ba...halaaaa

Balas

ya....nikah dulu lah......nenek-nenekpun jadi deh dari pada jomblo terus...;o)

Balas

aaaamiiiin....nah gituh yang dimaksudkan oleh sayah juga KK....kecup anget ah....;o)

Balas

looh....kalau gituh sama dong dengan sayah...wong sayah juga baru tau juga tuh....wkwkwk

Balas

sudah menjadi keharusan ya pak kalau kita cinta kepada seseorang harus karen Allah. sehingga, kelajutan cinta tersebut bisa langgeng :)

Balas

dibawa ke tukang serpis Hp Kang :)

Balas

rupanya Mbak Ririn pinter banget ya :)

Balas

Biasa aja kok kang. Nggak pinter-pinter banget. Yang pinter itu Pak Cilembu karena beliau bisa membuat posting yang luar biasa ini :)

Balas

Copyright © 2008 - DESA CILEMBU | Privacy Policy | Disclaimer | About | Created by Kompi ajaib - Powered by Blogger