DESA CILEMBU

Curug Domas dan Desa Haurkuning Sumedang

Curug Domas dan Desa Haurkuning Sumedang - Curug Domas Tempat Bertapa Buyut prabu Geusan Ulun - Salaka Domas adalah sebuah tempat dialiran sungai Cipeles, tepatnya terletak kurang lebih 1 km dari Balai Desa Cijambe, Kecamatan Paseh, Kabupaten Sumedang.
  • Ingat dengan Jalan Cadas Pangeran?, di bawahnya (jurang) mengalir aliran Sungai Cipeles, dibaca juga yah.
Selain tempat bertemunya dua aliran sungai, yaitu sungai Cipeles dan sungai Cimacan, sebelah hilirnya terdapat hamparan batu-batu berukuran raksasa yang memenuhi permukaan aliran sungai Cipeles, meskipun pada siang hari, suasana serta gemuruh air terjun semakin menambah kesan angker karena suasananya sangat sunyi.

Tidak jauh dari bebatuan raksasa, terdapat sebuah lokasi yang dikenal dengan Curug Domas. Konon menurut cerita turun temurun, pada jaman dahulu di bawah gua air terjun Curug Domas yang hingga sekarang masih ada, pernah dijadikan tempat bertapa Embah Madia salah satu buyut dari Santowan Awiluar, anak ke-6 Pangeran Santri, saudara kandung Pangeran Geusan Ulun.

Selama 40 hari Embah Madia bertapa, beliau selalu membawa gamelan Bonang yang diikatkan pada sebuah batu yang ada di sekitarnya, maksudnya agar pada hari ke-40, gamelan Bonang terebut sebagai tanda bahwa pertapaan telah selesai, namun belum mencapai 40 hari, gamelan Bonang tersebut, salah satu kerabat Embah Madia, memukulnya memberi tanda kepada Embah Madia untuk menyelesaikan pertapaannya, tetapi pada kali ini bukan lantaran pertapaan Embah Madia sudah selesai, melainkan telah terjadi sebuah peristiwa pembunuhan yang menimpa adik perempuannya yaitu Nyi Lenggang Kuning yang cantik jelita telah diperebutkan oleh para jejaka bangsawan, karena terbakar rasa cemburu tega membunuh Nyi Lenggang Kuning.
Curug Domas dan Desa Haurkuning Sumedang
Kemarahan yang tidak terhingga terjadi pada Embah Madia mengetahui adik kesayangannya terbunuh, maka dengan rasa murka yang tidak tertahan Embah Madia menancapkan tongkat saktinya yang terbuat dari bambu kuning tersebut di tepian sungai Cibeureum.

Rumpun Bambu kuning yang berasal dari tongkat Embah Madia tersebut hingga kini sangat rimbun karena tidak ada warga yang berani menebang bahkan mengambilnya.
Dan kini nama tempat itu diberi nama Desa Haurkuning (Haur = bambu).
Demikian silsilah nama Desa Haurkuning di Curug Domas

Enter your email address to get update from DESA CILEMBU.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

14 komentar

Saya baru tahu cerita dari curug domas,berarti terjadinya gara-gara tongkat. coba akang menancapkan bakal gitu moal nyua.

Balas

telah terbukti nyata, saya nancepin tongkat saya, jadinya si teteh, si Troy dan si Geo :) ;)

Balas

wah mantap atuh kang cerita dari harkuningnya :)
mana ngupi dulu datang pagi pagi ini mah :)

Balas

saya manggut manggut aja deh :)

Balas

kupinya udah di seruput kucing...mang.

maaf yah

Balas

manggut-manggut kaya burung platuk ajah deh ih

Balas

Duh hebring sekali kang cerita haurkuningnya ... dekat jurug lagi ih

Balas

Kang lembu ikut bertapa juga ndak bersama mbah Madia

Balas

ha..ha...tapi da heueuh nya.

Balas

dekat jurug mah si mamang lembu lagi jongkok. ntah lagi apa mang.

Balas

Sedikit oot kang...mau tanya nich...saya masih penasaran tentang pusat pemerintah kerajaan Galuh...soalnya info yg saya dapat simpang siur. Apakah betul Sumedang adalah pusat kerajaan Galuh? sebagai sesepuh tatar pasundan, saya rasa akang bisa menjelaskannya kepada saya... :)

#Hatur nuhun

Balas

jadi mun ka Sumedang rek ameng ka Curug Domas bisa mampir ke Mang Lembu dulu kali yah... biar dikasih bekel dulu dan di suruh nganter ke Curug nya .. :D

Balas

saya bingung da, coba naun nu rek ditancepekeuna .. :D

Balas

pasti ndak lah Mang ... emang kuat gitoh Mang Lembu Tapa ... (kabooor)

Balas

Copyright © 2008 - DESA CILEMBU | Privacy Policy | Disclaimer | About | Created by Kompi ajaib - Powered by Blogger