DESA CILEMBU

Filosofi dan Sejarah Seni Sisingaan Subang

Filosofi dan Sejarah Seni Sisingaan khas Subang - Kesenian Sisingaan adalah jenis kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Subang, kesenian ini mempunyai ciri khas atau identitas sepasang patung sisingaan atau binatang yang menyerupai singa.
Sisingaan mulai muncul pada saat kaum penjajah menguasai Subang, yakni pada masa pemerintahan Belanda tahun 1812. Subang pada saat itu dikenal dengan Doble Bestuur, dan dijadikan kawasan perkebunan di bawah perusahaan P dan T Lands (Pamanoekan en Tjiasemlanden).
Filosofi dan Sejarah Seni Sisingaan Subang
Pada saat Subang di bawah kekuasaan Belanda, masyarakat setempat mulai diperkenalkan dengan lambang negara Belanda yakni crown atau mahkota kerajaan. Dalam waktu yang bersamaan daerah Subang juga di bawah kekuasaan Inggris, yang memperkenalkan lambang negaranya yakni singa. Sehingga secara administratif daerah Subang terbagi dalam dua bagian, yakni secara politis dikuasai oleh Belanda dan secara ekonomi dikuasai oleh Inggris.
Video YpuTube Kesenian Sisingaan khas Subang
Play Video
×
Seiring dengan perkembangan zaman, kesenian ini juga mengalami perkembangan secara keseluruhan, baik dari bentuk patung sisingaan, waditra, busana, dan fungsi sisingaan. Sehingga bisa dikatakan bahwa kesenian ini juga bersifat dinamis, mengikuti perkembangan zaman, dan menyesuaikan dengan perubahan zaman.
Pada awal terbentuknya kesenian sisingaan terbatas hanya untuk sarana hiburan pada saat anak dikhitan, dengan cara keliling kampung. Namun pada saat ini kesenian sisingaan mempunyai fungsi yang beragam antara lain untuk prosesi penyambutan tamu terhormat, dengan jalan naik di atas sisingaan. Fungsi lain yakni untuk menyambut atlit yang berhasil memenangkan suatu pertandingan, bisa ditampilkan secara eksklusif berdasarkan permintaan.
Tradisi SISINGAAN ini sekarang biasa di pakai sebagai hajatan seorang anak sehabis di khitan. Sebagai tanda kalau anak itu telah memasuki ke tingkat Dewasa. Anak yang habis di khitan tersebut, biasanya menaiki sisingaan tersebut. Kemudian sisingaan tersebut di angkat atau di gotong oleh 4 orang dewasa. Lalu anak tersebut di gotong memakai sisingaan tersebut mengelilingi kampung dengan di iringi musik-musik tradisional khas sunda. Tradisi sisingaan ini masih ada di daerah Jawa Barat, terutama di daerah Subang.
Adapun peralatan musik pada Seni Sisingan khas Subang ini antara lain:
  • 2 buah angklung galimer
  • 2 buah angklung indung
  • 2 buah angklung pancer
  • 2 buah angklung rael
  • 2 buah angklung ambrug
  • 1 buah angklung engklok
  • 1 buah terompet
  • 2 buah dogdog lonjor
  • 1 buah bedug 
  • 3 buah terbang

Enter your email address to get update from DESA CILEMBU.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

8 komentar

Muantappp kang pertamax nih, wah ternyata angklung banyak juga ya jenisnya gak cuma itu itu saja.

Balas

sampai saat ini kesenian sisingaan cukup dikenal oleh masyarakat karena sering muncul di tv

oiya, kalo ada waktu mampir di blog baruku ini ya mang, biar rame hehe. infonya[dot]indradp[dot]com :)

Balas

paket kaos dan ubi cilembu mateng dapat di tunggu...

Balas

ehmm...;)

ke tekapeh nih

Balas

Okeh siap kang diantos di bumi caket unsil GPL kang di kirimna, hehehe.

Balas

Tasik atuh euy...reng-rengan mang Hendra ya?

Balas

Snes kang abdi mah nyalira w sien pami reng rengan mh moal ka tingali kasepna atuh.

Balas

katingalina ge. paling jiga kasep ak kuda :D

Balas

Copyright © 2008 - DESA CILEMBU | Privacy Policy | Disclaimer | About | Created by Kompi ajaib - Powered by Blogger