Behrouz Boochani Di Penjara Kita Bisa Berdaya

Kisah seorang pencari suaka Behrouz Boochani
Silahkan melanjutkan membaca ke Tab one

Di Penjara Kita Bisa Berdaya ~ Konotasi dari sebuah penjara nggak jauh dengan sebuah ruangan pengap, lembab, kecil plus berbau pesing dan pasti berjeruji besi, tapi sesungguhnya penjara tidaklah hanya terbatas dari gambaran tersebut diatas, sebab walaupun kita saat ini sedang berada pada rumah yang luas dan nyaman dengan segala fasilitas lengkap dan memiliki keleluasaan dalam menentukan pilihan, jika perasaan hati, pikiran dan kondisi yang sedang galau tragis pun, kita akan merasa betapa kita seolah-olah sedang berada dalam sebuah ruang hidup yang pengap, gelap, lembab dan sempit sehingga nggak tahu apa yang harus kita lakukan sehingga kita merasa seolah-olah sedang berada di ruang penjara.
Bagi para jomblo buluk tragis, penjelasan diatas akan sangat mudah di pahami, sebab keadaan mereka saat menjalani kehidupan ini sebagai seorang jomblo buluk tragis saat ini memang seperti gambaran tersebut diatas.....akui dan mengaku saja-lah...iya kan...hidup Anda seperti sedang menjalani sebuah hukuman di dalam penjara? nggak tahu apa yang harus Anda lakukan, dan Anda pun bingung ke arah mana hidup ini hendak di tuju.
Kalimat para ustad yang menyuruh kita untuk Bersabar, Tawakal dan selalu bersyukur atas kondisi yang sedang dihadapi pun jadi nggak mudah untuk dapat menghibur hati Anda....betul?!
BUKA TAB TWO UNTUK Melanjutkan
Kisah seorang pencari suaka Behrouz Boochani
Di Penjara Kita Bisa Berdaya
Wahai Anda para jomblo buluk tragis yang hidup seolah-olah sedang berada dalam penjara, kiranya dapat mencontoh seorang pencari suaka yang kebetulan juga seorang jurnalis yang ditahan selama bertahun-tahun oleh pemerintah Australia di Manus Island sebuah pulau kecil di kawasan Pasifik bernama Behrouz Boochani suku Kurdi asal Iran justru memenangkan Victorian Prize for Literature atas karya bukunya berjudul No Friend But The Mountains: Writing from Manus Prison (Tak AdaTeman, Kecuali Gunung: Kisah dari Penjara Manus).

Buku yang ditulis Boochani itu disusun berdasarkan rangkaian pesan singkat ponsel yang dikirimkannya dari penjara. Buku tersebut dinyatakan memenangkan Victorian Prize for Literature tahun 2019. Boochani pun berhak atas hadiah sebesar AUS$100.000 atau sekitar Rp1 miliar.

Meski begitu, Boochani kini masih berada di Pulau Manus yang berada di bawah administratif Papua Nugini. Ia tetap dilarang memasuki Australia sebagai pencari suaka.

Berbulan-bulan tinggal di bandara Malaysia, pengungsi Suriah dapat suaka Kanada
Larang anak masuk sekolah yang campurkan murid lelaki dan perempuan, suaka pengungsi Suriah ditolak
Membantu pengungsi bisa dipidana di Hungaria
Pusat tahanan kontroversial di Pulau Manus itu ditutup tahun 2017. Ia dan ratusan pencari suaka lainnya sejak saat itu dipindahkan ke lokasi alternatif.

Selain anugerah literatur tertinggi, buku karangan Boochani juga memenangkan kategori nonfiksi dalam Victorian Premier's Literary Awards. Ia berhak atas hadiah sebesar AUS$25.000 atau Rp250 juta.

Berbicara kepada BBC dari Pulau Manus pada malam perayaan para pemenang anugerah literatur itu, Boochani menyebut pencapaiannya memunculkan paradoks.

"Di satu sisi saya sangat senang karena mendapatkan perhatian atas keadaan buruk ini. Anda tahu bahwa banyak orang mulai memperhatikan situasi ini, dan itu baik.

Tapi di sisi lain, saya merasa tak punya hak untuk merayakan kemenangan karena saya punya banyak teman yang menderita di tempat ini, Hal yang paling utama bagi kami adalah mendapat kebebasan, keluar dari pulau ini, dan memulai kehidupan baru" ujar Boochani.

Hampir sebagian besar isi buku itu dikirim oleh Boochani melalui layanan pesan singkat Whatsapp kepada penerjemah bernama Omid Tofighian.

"Whatsapp seperti kantor saya. Saya tidak menulis di kertas karena saat itu, setiap pekan atau setiap bulan, penjaga penjara mendobrak kamar dan memeriksa barang-barang kami. Saya khawatir kehilangan tulisan saya, jadi lebih baik saya menulis dan mengirimkannya ke dunia luar," ujarnya.

Boochani, yang pertama kali dipenjara tahun 2013 ketika tiba di Asia Tenggara menumpang perahu, kini menjadi orang berpengaruh yang paling getol mengkritik sistem penahanan lepas pantai Australia.

Boochani rutin menulis untuk koran Inggris, Guardian. Ia mengunggah cuitan ke Twitter tentang kehidupan di Manus dan berdebat dengan para pendukung kebijakan Australia.
Boochani juga membuat video dokumenter dari tahanan, lagi-lagi menggunakan ponsel. Film itu berjudul Chauka, Please Tell Us The Time.

Australia berkeras tidak akan menerima pencari suaka yang berusaha masuk melalui jalur laut.
Tahun 2018, Amerika Serikat sepakat menampung sejumlah pengungsi dari pusat tahanan lepas pantai di Manus dan negara kepulauan Nauru.

Lebih dari 100 pengungsi sejak saat itu direlokasi, tapi Boochani masih menunggu informasi lebih lanjut setelah menjalani wawancara dengan pejabat imigrasi AS, beberapa bulan lalu.
Boochani mendapatkan status pengungsi dari pemerintah Papua Nugini, tapi seperti mayoritas pencari suaka, ia enggan menentap di negara itu.
Boochani berkata, ia memutuskan kabur dari Iran karena bermasalah dengan pemerintahan negara itu, terutama terkait karya jurnalistiknya.

"Saya tidak ingin masuk penjara di Iran, jadi saya pergi dan ketika sampai di Australia, mereka memasukkan saya ke penjara ini selama bertahun-tahun," ujarnya.

Para juri dari anugerah literatur Australia menyebut buku karangan Boochani "sebuah karya seni menganggumkan dan berisi teori kritis yang meyingkirkan penjelasan sederhana."

"Susunan naratif khusus digunakannya, dari analisis kritis hingga penjelasan sederhana, dari puisi hingga distopia nyata."
"Tulisan itu sangat indah dan presisi, menyatu dengan tradisi literal yang berasal dari seluruh dunia, terutama dari kebiasaan orang-orang Kurdi," demikian pernyataan para juri.

Kebijakan imigrasi Australia terhadap pencari suaka ditentang sebagian penduduknya.
Syarat seleksi Victorian Prize for Literature mengharuskan para penulis memegang status warga negara Australia atau penduduk tetap.

Bagaimanapun, Wheeler Centre, lembaga yang menyelenggarakan anugerah literatur itu, menerima rekomendasi para juri dan menetapkan pengecualian bagi Boochani.

Kebijakan pengungsi Australia telah diberitakan secara luas oleh media massa dari seluruh dunia. Perserikatan Bangsa-bangsa dan kelompok pegiat hak asasi manusia juga mengkritik kebijakan itu, meski sejumlah politikus Eropa memuji langkah Australia.
Namun Boochani ingin para pembaca bukunya memahami bahwa apa yang ditulisnya melucuti identitas, kemanusiaan, dan kepribadian pengungsi atau para pencari suaka.

"Kami bukan malaikat dan kami bukan iblis. Kami adalah manusia, manusia sederhana, dan kami adalah orang yang tidak bersalah," kata Boochani.

Desakan pembebasan pencari suaka dari pusat tahanan lepas pantai dinyatakan sekelompok warga Australia dan kelompok HAM.
BUKA TAB TREE UNTUK Melanjutkan
Sebuah kutipan dari buku No Friends But The Mountains
Hari-hari tanpa rencana apapun /
Hilang dan mengalami disorientasi /
Pikiran masih terjaga di atas gelombang samudera /
Mencari kedamaian pikiran di daratan yang baru /

Namun daratan penjara serupa koridor yang mengarah ke gelanggang para pegulat /
Dan aroma keringat hangat yang tercium di mana-mana membuat setiap orang sakit pikiran /

Satu bulan telah berlalu sejak saya dibuang ke Manus. Saya adalah seonggok tubuh yang dilempar ke daratan tak dikenal: penjara penuh kecemaran dan panas.
Saya tinggal di antara orang-orang laut yang wajahnya kotor dan dibentuk oleh amarah, muka yang penuh kebencian.
Setiap pekan satu atau dua pesawat mendarat di bandara yang hancur di pulau ini dan kerumunan orang turun dari sana.

Beberapa jam kemudian, mereka dihempaskan ke penjara, ke tengah-tengah pengungsi yang ribut serta memekakkan telinga, persis seperti domba yang masuk ke penjagalan.

Kisah seorang pencari suaka Behrouz Boochani
Di Penjara Kita Bisa Berdaya
Wahai para jomblo buluk tragis, ternyata Anda jauh lebih beruntung dibandingkan dengan lelaki pencari suaka bernama Behrouz Boochani yang telah mengguncang dunia dengan karya buku yang dihasilkan dari dalam penjara yang mampu kemudian membuka mata dunia bahwa ternyata masih sangat banyak orang-orang didunia ini khususnya para pencari suaka itu tak lagi memiliki hak hidup seperti yang Anda miliki.


Maka setelah Anda membaca Kisah seorang pencari suaka Behrouz Boochani Di Penjara Kita Bisa Berdaya ini, bangun dan bangkitlah lalu mari kita bersama-sama menaklukkan dunia ini untuk kemudian kita kelak kembali kepada sang pemilik hidup dengan tersenyum
Sumber BBC
Reaksi:

Related Posts:

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini.
Buka Komentar
© 2009 DESA CILEMBU - Template by Basri Matindas .- Proudly powered by Blogger