Penerapan Teknologi Aspal Limbah Plastik di Jalan Nasional dan Dampak Buruknya

Penerapan Teknologi Aspal Limbah Plastik di Jalan Nasional dan Dampak Buruknya
Penggunaan aspal bercampur plastik selain untuk mengurangi limbah plastik juga karena kualitasnya lebih unggul dibanding aspal minyak. Lebih detail silahkan tonton videoDengan penambahan limbah kantong kresek pada agregat, kelekatan agregat pada aspal menjadi lebih kuat atau tahan terhadap air. Kelekatan yang semakin tinggi juga membuat kestabilan yang semakin tinggi terhadap beban lalu lintas.

Meskipun demikian teknologi baru yang dimiliki PU dalam hal ini Bina Marga ternyata Limbah Plastik Digunakan untuk Aspal Jalan, Ternyata Berisiko.
Ini dia:

Dampak Buruk
Limbah plastik untuk bahan baku aspal jalan bukan hal baru. Dikutip dari The Guardian, jalanan dari limbah plastik yang dikembangkan 15 tahun lalu di India ini memiliki kelebihan dan kelemahan. Jalan aspal dari plastik campur aspal (bitumen) di India menjadi salah satu diskusi aktivis lingkungan. David Sutasurya, Direktur Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) ini misalnya mendiskusikan dengan Dharmesh Shah dari Global Alliance for Incinerator Alternatives (GAIA).
Baca juga:
  1. Beton Tanpa Semen
  2. Jenis dan Struktur Jalan Raya
  3. Formula Dan Cara PembuatanBeton Tanpa Semen
  4. Beton Fast Trak 
  5. SE Pilot Project PUSJATAN 2016 
  6. Jempatan Apung,  Cilacap pertama di Indonesia
David membagi hasil diskusi, sekaligus mengonfirmasi izin pengutipannya untuk Mongabay Indonesia. Berikut penjelasan Dharmesh Shah diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Jalan plastik pertama kali diusulkan sebagai solusi untuk membuang sampah plastik berharga rendah dan plastik laminasi. Namun, ia gagal lepas landas sebagai solusi untuk sampah residu karena standar kualitas jalan di India mengharuskan kontraktormenggunakan LDPE dan HDPE, di mana keduanya lebih berharga untuk didaur ulang. Akibatnya infrastruktur yang telah diadakan untuk jalan plastik seperti pencacah dll, di Chennai sekarang mangkrak.

Penggunaan limbah kemasan plastik untuk peletakan jalan diperkenalkan di India oleh Prof.V.Vasudevan dari Thiyagaraja Engineering College, Tamil Nadu. Menurut penemu, proses pencampuran bitumen mengurangi biaya dan secara signifikan memperpanjang umur jalan. Prosesnya menggunakan cacahan plastik berharga bermutu rendah yang juga bisa mencakup plastik berlapis.

Namun, prosesnya hanya bisa menggunakan kemasan berlaminasi di bawah 60 mikron tebal (pedoman Kementerian Pembangunan Pedesaan India) dan hanya toleran terhadap pastik berlapis dalam jumlah terbatas (pedoman Kongres Jalan India).
Namun, panduan dari Kongres Jalan India hanya merekomendasikan penggunaan plastik yang sesuai dengan Low Density Polyethylene (LDPE), Polyethylene Kepadatan Tinggi (HDPE), PET dan Poliuretana untuk konstruksi perkerasan. Dengan kata lain, kemasan laminasi dapat digunakan sebagai pengisi tapi bukan bahan yang diutamakan dalam proses pembuatan jalan.

Terkait potensi paparan terhadap racun. Bitumen diproses pada suhu maksimum 160 derajat celcius, yang cukup tinggi untuk melelehkan plastik tapi terlalu rendah untuk memastikan degradasi berbagai jenis racun.
Demikian Penerapan Teknologi Aspal Limbah Plastik di Jalan Nasional dan Dampak Buruknya semoga berguna
Reaksi:

Related Posts:

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini.
Buka Komentar
© 2009 DESA CILEMBU - Template by Basri Matindas .- Proudly powered by Blogger