JIKA SEORANG PENGHIANAT BANGSA BERKATA

DESA CILEMBU ~ JIKA SEORANG PENGHIANAT BANGSA BERKATA

"Membela tanah air ngga ada dalilnya dalam Islam" ternyata tidak hanya dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia, tapi juga dilakukan oleh sebagian manusia yg mengadopsi dan mengakuisisi agama.

Sejarah pemaksaan ideologi politik identitas selalu berulang di berbagai wilayah bumi dan telah berlangsung ratusan tahun. Setiap jengkal peradaban manusia, terutama dalam politik, selalu saja dihiasi oleh mereka yg berusaha membenturkan negara dan agama. Urusan teritorial yang merupakan hasil kesepakatan antar manusia, berusaha diintervensi untuk selalu dikaitkan dengan urusan spiritual yang merupakan kesepakatan manusia dengan Tuhannya. Kekuasaan Tuhan tidak bersekat. Ambisi kekuasaan manusia, seringkali direpresentasikan seolah berbanding lurus dengan ambisi keilahian. "Tuhan tak berambisi untuk berkuasa, karena kekuasaan mutlak telah melekat kepadanya sejak manusia belum manusia, bahkan sejak alam semesta belum alam semesta," kata Descartes dalam argumen ontologinya. Manusia menyitir Tuhan untuk meninggikan dirinya, mematikan ketersingkiran dirinya yang bukan siapa-siapa dan mendeklarasikan dirinya seolah ambisinya "diendorse" oleh Tuhan.

Membela tanah air sejatinya tidak perlu dalil apapun. Ini naluri alamiah. Tanah air sebagai wilayah berdiam, adalah kekuasaan partikular manusia yang harus dilindungi - insting yang sejatinya dimiliki semua mahluk hidup, bahkan binatang sekalipun.
Manusia yang berakal, sebagai "khalifah" di muka bumi, seharusnya lebih mampu untuk bernalar.

Nasionalisme dan agama bukanlah sebuah benturan - secara historis, Islam telah membuktikannya.

Namun di tangan para "bigot", nasionalisme berusaha didevaluasi seolah bukan ajaran agama2 Kekerdilan pola berfikir dan ambisi buta kepada kekuasaan, kadang bukanlah kombinasi yg tepat untuk memanusiakan manusia.

Dengan beragama, tidak menjamin manusia untuk selalu bermoral, meski akhlak yang baik adalah inti ajaran semua agama.

Sangat miris dan ironis, ketika semakin banyak orang yang masih saja tertipu oleh ambisi kekuasaan bertopeng agama.

Ayat-ayat menjadi bahan bakar dalam membawa umat untuk mengkhianati negaranya - seolah membela negara bukanlah bagian dari cinta kepada agama.
Reaksi:

Related Posts:

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini.
Buka Komentar
© 2009 DESA CILEMBU - Proudly powered by Blogger