LANGKAH VISIONER JOKOWI MENGHADAPI DEWA MABUK

Desa Cilembu ~ LANGKAH VISIONER JOKOWI MENGHADAPI DEWA MABUK
Ia datang laksana pendekar "Dewa Mabuk" yang sedang turun gunung, lalu menyerang ke segala penjuru mata angin, menendang dan memukul siapapun yang dijumpai - dengan kekuatan penuh ia membabi buta.

Seperti orang yang terlalu lama di dalam gua, ia terbiasa merasa besar di dalam ruangan kecil. Banyak orang terpana melihat aksinya, ada juga yang tidak terima namun tidak mampu berbuat apa-apa. Sikap diam orang-orang membuatnya semakin merasa besar, jumawa dan menganggap orang lain jauh lebih kerdil.
Tidak ada satupun yang sanggup menghalangi, termasuk tentara kerajaan - ia merasa hukum tak sanggup menyentuhnya.

Kisah klasik ini adalah gambaran implisit dari apa yang dimaksud dengan "impunitas". Hari-hari terakhir kita menyaksikan semua itu di sini. Negara diam, seolah tidak hadir. Sebagian dari kita tidak terima, tapi tak mampu berbuat apa-apa. Kita semua pasrah dalam amarah diam-diam.
Kita menyaksikan bagaimana semua orang dikerdilkan satu persatu, melewati beranda-beranda kita dengan leluasa.
Namun bagaimanapun kita berdiam dalam satu negara yang berlandaskan hukum, bukan totalitarian yang harus menghadangnya dengan juga membabi buta.
Cara serampangan akan membuat kita tak ada bedanya dengan pendekar mabuk tadi.

Negara ini digawangi bukan untuk melayani amarah satu-dua orang, juga bukan untuk mengadopsi kesabaran segelintir orang.
Ini bukan soal marah atau sabar, ini tentang momentum dan marwah negara - adalah salah jika negara dianggap diam. Kita tidak boleh terjebak untuk memuji Jokowi secara berlebihan, bagaimanapun ia mempunyai banyak kekurangan. Ketika banyak orang mengritik pemerintah seolah melakukan pembiaran, kita harus mulai berusaha untuk memahami cara kerja Jokowi.

Banyak orang hilang kesabaran karena fokus melihat tingkah satu orang, disaat Jokowi harus melihat tingkah jutaan orang. Ia seperti halnya raja-raja Jawa yang mungkin membutuhkan waktu puluhan menit sekedar untuk menggerakkan satu langkah bidak catur.
Padahal ia tidak memikirkan langkah itu saja, tapi justru memikirkan puluhan langkah berikutnya.
BACA JUGA:
  1. Singgasana sang PEMAKI
  2. Prespektif Partai Demokrat dan SBY
  3. Media Australia sebut RIZIEQ chat mesum SIHAB hanyalah BURONAN PORNO
Ini bukan puja-puji, tapi ini fakta bahwa sikap reaksioner kita sering terlambat dibanding sikap Jokowi yang visioner.

#lawanintoleransi

☕cc.islah_bahrawi
Reaksi:

Related Posts:

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini.
Buka Komentar
© 2009 DESA CILEMBU - Proudly powered by Blogger