SILENT MAJORITY | Harusnya RIZIEQ chat mesum SIHAB Bertanya Pada PRABOWO

Desa Cilembu ~ SILENT MAJORITY | Harusnya RIZIEQ chat mesum SIHAB Bertanya Pada PRABOWO
Seorang totalitarian dengan arogansi tak terbatas, selalu salah perhitungan dalam mengukur reaksi "titik didih" kemarahan publik yang selama ini lebih banyak diam.
Bahkan penguasa otoritarian yang sangat kuat sekalipun, banyak yang tumbang oleh kemarahan publik yang datang tiba-tiba, dan di luar perhitungan lalu memberontak - menimbulkan magnitude yang selama ini mengalami luka yang sama secara diam-diam.
Publik pada situasi yang tragis, terjun bersama kepada laku yang heroik. Kemarahan datang bersama, kebencian yang terpendam berubah menjadi kolektifitas keberanian.
Karena itulah Peron, Marcos dan Soeharto tumbang, penjara Bastille dibakar dan Tembok Berlin dirubuhkan.

"Semakin keinginan dibangun terpendam, semakin dalam kebencian diciptakan," kata Socrates. Untuk urusan begini, bangsa kita sudah mengalami berkali-kali.
Meski mayoritas diam kadang rangkaiannya harus digerakkan melalui helaan lokomotif yang kuat, namun setidaknya Rizieq chat mesum Shihab merasakan kesaktian "silent majority" itu sekarang. Ini juga menjadi pelajaran bagi siapapun yang merasa mempunyai popularitas, namun hanya mengukur dari pekarangannya sendiri.
Merasa hebat dari apa yang terlihat, meremehkan dari apa yang tak terlihat.
Baca juga:
  1. Najwa Sihab Siap Gantikan Anus Baswedan
  2. Bocah Jenius dari Indonesia Ber-IQ 200
Pada situasi seperti saat ini, populisme berubah menjadi inferior: parau dan sakit. Kekuatan yang selama ini menjaganya, menjadi hiasan tak bergerak.
Penolakan mulai terbentuk, menjadi derit gerbong yang mulai bergerak. Proses diamnya mayoritas seperti inilah yang membuat Jokowi terpilih dua kali, dan yang melawannya menjadi antagonis.
Diamnya ternyata hanya pada mulut, tapi tidak pada tindak.

Mereka yang selama ini merasa hebat berbicara, membela diri dan memaki ke segala arah seharusnya belajar dari sini.
Ada perlawanan suatu saat yang tidak mereka duga.
Kebangkitan "Silent majority" itu nyata, hanya mereka memilih tidak banyak bicara.
Ada waktunya kelak orang yang merasa hebat akan ternganga dan tidak percaya, bahwa ia ternyata bukan siapa-siapa. Ia kalah. Ia tidak populer.
Mereka di sekelilingnya yang selama ini pandai bicara, juga ternyata bukan siapa-siapa.
Jika tak percaya, coba tanya Prabowo - beliau mengalami ini berkali-kali.

#lawanintoleransi
Cc.[islah_bahrawi]
Reaksi:

Related Posts:

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini.
Buka Komentar
© 2009 DESA CILEMBU - Proudly powered by Blogger