TENGKU ZULKARNAEN Adalah

Desa Cilembu ~ TENGKU ZULKARNAEN Adalah

Ngga tau kenapa saya tergerak untuk menulis soal Tengku Zulkarnain.
Saya berusaha menghindar untuk membuat narasi negatif tentang laku negatif yang sering dilakukannya. Juga tidak akan memaksa untuk memberi stigma positif dari beberapa hal positif yang juga pernah diberikannya.
Tengku Zulkarnain dalam belahan politik dirinya, seringkali melakukan pembelahan politik kepada pengikutnya. Keberpihakan politik selama berabad-abad telah menggiring pendakwah agama ke dalam wilayah abu-abu - menjebaknya ke tengah pusaran politik yang penuh keculasan dan merampas obyektifitas penghakiman. Tengku Zul berada pada titik ini. Pendakwah agama memaksakan dirinya untuk berpihak.
Mengalirkan deskripsi spiritual untuk mempertegas pembenaran, bahkan kadang melakukan aksi yang irrasional.
Bagi sosok dukungannya, mereka tidak segan melontarkan narasi seolah telah mendapat "restu langit". Entah melalui konstelasi keilahian, mimpi, atau bisikan gaib.
Dan resikonya, ketika dukungannya gagal, mereka mengeluarkan naluri aslinya: menyerang habis-habisan pihak lawan untuk menjaga harga dirinya.
Sebagai pendakwah agama mereka tidak ingin terkesan bahwa kegagalan itu akibat adanya kendala frekuensi dengan Tuhan. Mereka tetap ingin berkesan punya jalur "online" ke poros langit. Tengku Zul berada pada titik ini.

Agama dan pendakwah agama adalah dua irisan yang berbeda.
Agama sebagai representasi entitas moral yang luhur, sedang pendakwah agama adalah manusia biasa yang bisa berbuat apa saja.
Postulat politik dari masa ke masa memaksa manusia untuk "memuja" manusia.
Pendakwah agama banyak yang terkecoh pada bagian ini.
Di wilayah politik, mereka mengakuisisi agama untuk dilekatkan paksa dalam kepentingannya, seolah juga kepentingan agamanya.

Politisasi agama keseringan menggunakan pendakwah agama untuk meninggikan dukungannya secara bombastis dan merendahkan lawan secara sadis. Tengku Zul juga berada pada titik ini.

"Ketika manusia dijajah ambisi kekuasaan, kepalanya hanya berisi pedang: ia selalu melihat perang.
Ketika manusia dijajah cinta, kepalanya berisi bunga: ia selalu melihat keindahan," Ini kata Tabrizi, dan Tengku Zulkarnaen belum berada pada titik ini.
Reaksi:

Related Posts:

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini.
Buka Komentar
© 2009 DESA CILEMBU - Proudly powered by Blogger